EXPRESI.co, MAMUJU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mamuju telah menyemprotkan insektisida melalui fogging di ratusan titik lokasi dengan tujuan membasmi nyamuk dewasa penyebab DBD.
Fogging dilakukan setiap kali ada yang positif DBD, penyemprotannya 3 sampai 4 titik dalam 1 kasus.
Saat ini kasus DBD mencapai 140 orang. Dengan begitu, bisa diasumsikan jika 1 kasus 3 titik, maka sudah 420 lokasi yang disasar.
“Tidak bisa kita hitung karena banyak. Yang jelas, setiap ada kasus, kita langsung fogging. Sehari 3 sampai 4 titik. Paling sedikit itu 2 titik. Itu minimal,” kata Kabid P2P Dinkes Mamuju, Alamsyah Thamrin, Jumat (21/7/2023)
Meski efektif, fogging harus dilakukan dengan tepat agar efektif membunuh nyamuk penyebab DBD. Salah satunya dengan memperhatikan waktu aktivitas nyamuk.
Alamsyah menjelaskan, nyamuk aedes aegypti berbeda dengan jenis nyamuk lainnya. Mereka aktif di pagi dan sore hari saja. Dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 dan 16.00 sampai 18.00.
“Agar fogging efektif, maka penyemprotannya harus dilakukan di pagi dan sore hari juga. Di luar jam itu, tidak akan maksimal karena nyamuk-nyamuk itu berada di sarangnya,” bebernya.
Meski rutin fogging, Alamsyah meminta masyarakat tidak terlalu bergantung pada fogging untuk menekan DBD. Menurut dia, fogging hanya dilakukan pada daerah yang memiliki kasus DBD. Daerah lain tidak disasar.
Sehingga, kata dia, pencegahan kasus DBD bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan cara menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. Mulai dari membersihkan bak mandi, penampungan, serta menguras wadah lain yang memiliki genangan air. Misalnya, kaleng bekas, ban, dan wadah lainnya.
“Fogging untuk membasmi induk nyamuk saja, telurnya tidak. Maka perlu membasmi jentik untuk mencegah perkembangannya menjadi nyamuk dewasa. Caranya menjaga kebersihan dan menggunakan abate. Jika ini rutin dilakukan, saya yakin kasus BDB bisa ditekan,” pungkas Alamsyah. (adv)

Tinggalkan Balasan