EXPRESI.co, KUTIM – Kondisi perpustakaan daerah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang dinilai belum representatif menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

‎Keterbatasan fasilitas dan lokasi yang kurang strategis disebut masih menjadi penghambat tumbuhnya minat baca masyarakat.

‎Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pun mulai menyiapkan langkah konkret dengan merancang pembangunan perpustakaan daerah yang lebih layak melalui skema pemanfaatan aset.

‎Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengakui bahwa kondisi perpustakaan saat ini belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik dari sisi akses maupun kelayakan bangunan.

‎“Ini pertanyaan yang bagus. Kami memang sudah menyiapkan rencana pembangunan gedung perpustakaan,” ujarnya, Rabu 1 April 2026.

‎Menurutnya, pembenahan fasilitas perpustakaan menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada sektor literasi.

‎Selama ini, perpustakaan daerah masih menghadapi sejumlah kendala mendasar, mulai dari lokasi yang jauh hingga belum tersedianya gedung yang memadai.

‎“Karena memang kantor perpustakaan kita masih jauh dan kita juga belum punya gedung perpustakaan yang representatif,” jelasnya.

‎Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya akses masyarakat terhadap layanan literasi, terutama bagi pelajar dan masyarakat umum yang membutuhkan ruang belajar yang nyaman dan mudah dijangkau.

‎Sebagai langkah solusi, Pemkab Kutim merancang skema tukar guling aset dengan Kejaksaan Negeri Kutai Timur. Dalam rencana tersebut, gedung lama Kejari akan dialihfungsikan menjadi perpustakaan daerah.

‎“Kita tukar guling dengan Kajari. Kantor Kajari yang ada itu rencananya akan kita sulap menjadi gedung perpustakaan,” ungkapnya.

‎Namun, rencana tersebut belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Hingga saat ini, proses pemindahan aktivitas Kejaksaan ke gedung baru masih berlangsung dan belum sepenuhnya selesai.

‎“Sudah masuk dalam rencana, tapi pihak Kajari masih belum selesai memindahkan semua ke gedung baru, jadi belum bisa kita lakukan,” terangnya.

‎Pemerintah daerah memastikan, pengembangan perpustakaan ke depan tidak hanya berfokus pada penyediaan buku fisik, tetapi juga akan mengarah pada layanan digital untuk memperluas jangkauan akses literasi masyarakat.(Yuristio)