EXPRESI.co, KUTIM — Kinerja Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam merealisasikan belanja modal hingga akhir Maret 2026 mendapat sorotan tajam dari DPRD.
Pasalnya, serapan anggaran dinilai masih sangat rendah meskipun dana transfer dari pemerintah pusat telah mulai masuk.
Kondisi ini berpotensi menghambat percepatan pembangunan serta memperlambat perputaran ekonomi di daerah.
Anggota DPRD Kutim, Faizal Rachman, mengungkapkan adanya ketimpangan antara dana transfer yang diterima dengan realisasi belanja modal.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan yang ia cek, hingga Maret 2026 Kutim telah menerima sekitar Rp485 miliar dana transfer pusat.
Namun, realisasi belanja modal disebutnya masih sangat minim, bahkan nyaris nol.
Sebagai perbandingan, Faizal mencontohkan Provinsi Jawa Barat yang justru telah merealisasikan belanja modal hingga Rp585 miliar, meskipun belum menerima transfer dana dari pemerintah pusat.
“Ini menunjukkan pelaksanaan APBD kita belum berjalan optimal,” tegasnya, Rabu 1 April 2026.
Ia pun mendesak pemerintah daerah segera mempercepat pelaksanaan program yang telah dianggarkan agar pembangunan bisa segera dirasakan masyarakat.
“APBD yang sudah disahkan harus segera dijalankan, supaya pembangunan bergerak dan berdampak pada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor, mengakui bahwa percepatan penyerapan anggaran masih dalam proses.
Menurutnya, salah satu kendala yang dihadapi adalah ketidakpastian transfer dana dari pemerintah pusat, sehingga memengaruhi laju realisasi program di daerah.
“Kita tidak bisa memprediksi transfer ke daerah, itu menjadi salah satu tantangan,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan seluruh program sebenarnya telah memiliki Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Hanya saja, realisasi di lapangan masih menunggu percepatan dari masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).
“Mudah-mudahan April ini sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, tetap berkomitmen menjalankan program meskipun ada potensi pergeseran anggaran yang menyebabkan keterlambatan.
“Walaupun ada pergeseran dan sedikit keterlambatan, kami akan tetap berupaya menjalankan program-program yang sudah direncanakan,” pungkasnya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan