EXPRESI.co, BENGALON — Di Desa Keraitan, curhat warga bukan sekadar keluhan. Ketika Wakil Bupati Kutai Timur H Mahyunadi datang berkunjung, balai desa berubah menjadi ruang dialog. Di sana, masyarakat menyampaikan satu per satu persoalan yang selama ini membelit mereka, dari infrastruktur hingga kebutuhan dasar.
“Jalan menuju desa penuh lubang, becek, berlumpur, dan belum diaspal, dan ini jelas menggangu aktivitas masyarakat di sini,” ucap Sony, seorang warga yang berharap pemerintah benar-benar mendengar.
Tak hanya soal jalan. Ketiadaan air bersih, listrik, internet, hingga minimnya guru sekolah dan tokoh agama menjadi daftar panjang aspirasi yang disampaikan warga secara langsung. “Kalau ada acara, kami masih harus memanggil imam dari Bengalon. Guru SD pun hanya ada dua orang, itu pun honorer,” kata Hili, ibu rumah tangga yang antusias menyampaikan suara desanya.
Alih-alih sekadar seremonial, kunjungan Mahyunadi dijadikan momen untuk mencatat dan menugaskan langsung perangkat teknis terkait. Ia menyebut beberapa intervensi konkret. Jalan utama akan diajukan untuk dibantu oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC), termasuk penanganan jalan usaha tani melalui usulan kecamatan. Titik air bersih akan diteliti lebih dulu oleh Dinas PUPR dan KPC, dan jika tidak layak, maka solusi sumur bor disiapkan untuk tahun depan.
“Kalau tidak layak, kita siapkan sumur bor tahun depan. Kalau listrik PLN belum masuk, kita gunakan PLTS. Kami juga akan koordinasi dengan Kominfo untuk internet gratis, sesuai visi-misi ARMY,” ujar Mahyunadi dalam pertemuan itu.
Respons terhadap kebutuhan sosial pun tak diabaikan. Pemerintah siap memberikan dukungan honor bagi warga yang dapat mengajar ilmu agama. “Terkait guru mengaji, jika ada warga yang mampu mengajar ilmu agama, silakan lapor ke saya, nanti akan kami dukung dengan honor dari pemerintah. Jika tidak ada, nanti kami yang akan mencarikan,” tegasnya.
Pendekatan ini memperlihatkan wajah baru pelayanan publik yang berbasis pada pengalaman langsung warga. Bagi masyarakat Keraitan, harapan tidak lagi sekadar disimpan dalam hati, tetapi sudah tercatat dalam agenda pembangunan. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan