EXPRESI.co, BALIKPAPAN — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memperkuat kapasitas aparatur puskesmas sebagai langkah strategis menuju layanan kesehatan yang berpihak pada anak. Melalui Evaluasi Pengisian Borang Menuju Puskesmas Ramah Anak, sebanyak 36 peserta dari sembilan puskesmas mendapatkan pendalaman sembilan indikator ramah anak, dari aspek kebijakan hingga sarana dan mekanisme perlindungan.
Langkah ini dijalankan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim, bukan hanya sebagai penilaian administratif, tetapi juga sebagai bentuk penguatan garda terdepan pelayanan publik di tingkat desa dan kecamatan.
Idham Chalid, Kepala DPPPA Kutim, menekankan pentingnya kolaborasi semua lini.
“Upaya mewujudkan Puskesmas Ramah Anak bukan hanya tanggung jawab satu unit kerja saja. Dibutuhkan sinergi tenaga kesehatan, pemerintah, masyarakat, hingga keluarga pasien,” ujarnya.
Bagi DPPPA, yang lebih penting dari sekadar dokumen adalah implementasi di lapangan. Idham menegaskan hal ini sejalan dengan target Kutim dalam meraih status Kabupaten Layak Anak (KLA) tingkat Nindya, melanjutkan capaian sebelumnya di tingkat Madya.
“Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi komitmen nyata untuk memberikan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang anak,” lanjut Idham.
Dalam kegiatan ini, drg Nova Parannoan selaku juri, menjelaskan bahwa evaluasi borang menjadi cermin kualitas sesungguhnya dari layanan puskesmas.
“Formulir ini bukan sekadar kertas berisi tanda centang, tetapi refleksi apakah puskesmas sudah benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bersahabat bagi anak,” ujarnya.
Sementara itu, dari total 21 puskesmas, sembilan di antaranya dinyatakan siap mengikuti evaluasi. Hal ini diungkapkan oleh Kabid Perlindungan Hak Anak DPPPA Kutim, Rita Winarni.
“Pemenang pertama akan diajukan ke tingkat nasional,” jelasnya.
Salah satu peserta, Sri Wahyuni dari Puskesmas Sangatta Selatan, menyebut proses evaluasi ini memberikan banyak pembelajaran baru.
“Anak harus dipandang sebagai subjek yang punya hak, bukan sekadar objek pelayanan. Ini akan mengubah cara kami melayani,” katanya. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan