EXPRESI.co, KALIORANG — Tak ada jadwal resmi. Tak ada protokoler. Saat iring-iringan kendaraan Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi melintas di poros Kaliorang, tak seorang pun menyangka roda kebijakan akan berputar di sebuah musala kecil, nyaris luput dari pandangan.

Musala Al-Aqsa berdiri dengan atap seng dan rangka kayu. Dindingnya terbuka. Lantainya menjadi alas duduk santri kecil yang bersarung dan berjilbab, mengeja ayat demi ayat Al-Qur’an dalam bimbingan tiga ustazah sukarela. Di sinilah Mahyunadi turun dari mobil dan mendekat dalam diam. Ia tidak berpidato. Ia duduk bersama anak-anak. Lalu memutuskan.

“Teruslah hidupkan musala ini. Insya Allah, kami akan ajukan anggaran perbaikannya agar anak-anak bisa belajar mengaji dengan nyaman,” ucapnya setelah beberapa menit menyimak suasana.

Langkahnya berlanjut cepat. Di tempat itu juga, Mahyunadi memberi instruksi langsung kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Roma Malau. Tiga ustazah pendidik di musala didata untuk segera menerima insentif Rp1,5 juta per bulan per orang dan dilindungi dalam skema BPJS Ketenagakerjaan. Program itu diambil dari pos pemberdayaan tenaga kerja keagamaan yang sebelumnya telah dijalankan di Kaubun.

“Kalau semangat anak-anak ini bisa terjaga, saya yakin kecintaan terhadap Al-Qur’an akan tumbuh kuat dari usia dini. Dan itu akan membentuk karakter mereka di masa depan,” kata Mahyunadi.

Tak ada proposal. Tak ada seremoni. Perubahan dimulai dari tempat yang sederhana. Langkah kecil Mahyunadi di Musala Al-Aqsa mengubah tafsir pembangunan—bahwa kehadiran pemimpin bukan soal panggung, tapi soal siapa yang mereka lihat dan dengar ketika tak ada sorotan.  (ADV/ProkopimKutim/E)