EXPRESI.co, SANGATTA – Sanga Belida 2025 kembali digelar sebagai ajang penjaringan inovasi daerah yang menekankan pelayanan publik sebagai fokus utama. Kompetisi yang diadakan Brida Kutai Timur (Kutim) ini didesain untuk mendorong lahirnya terobosan layanan dari perangkat daerah dan masyarakat.
Edi Supriyanto dari Brida Kutim menuturkan bahwa lomba ini terbukti efektif menumbuhkan gagasan baru. “Awalnya indeks inovasi kita memang masih rendah. Dengan adanya lomba ini, kami berharap nilainya bisa terus meningkat,” katanya.
Pendaftaran ditutup 6 November dan menghasilkan lima peserta final. Proses penjurian melibatkan perguruan tinggi lokal seperti STIENUS, STIPER Kutim, dan SMKN 2 Kutim.
Bagus Rai Wibowo, peneliti Brida, menjelaskan alasan difokuskannya pelayanan publik. “Tahun ini kami fokus pada pelayanan publik karena manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, dengan bentuk inovasi bisa berbentuk digital maupun non-digital,” jelasnya.
Jenis inovasi yang diangkat meliputi tata kelola, pelayanan publik, dan teknologi tepat guna. Brida menilai inovasi pada tiga bidang ini mampu mempercepat layanan pemerintah dan menutup celah birokrasi lamban.
Brida juga menyoroti peningkatan signifikan indeks inovasi Kutim yang kini mencapai 48,88. Meski demikian, target berikutnya adalah masuk kategori “sangat inovatif” agar Kutim berhak atas insentif fiskal dari pemerintah pusat.
Bagus menyebut tahun ini sebagai momentum konsolidasi inovasi dan peningkatan kualitas. “Kita masih menunggu SK Indeks Inovasi Daerah dari Kemendagri yang akan keluar pada Desember nanti,” ungkapnya.
Melalui Sanga Belida, pemerintah berharap seluruh OPD lebih berani menciptakan layanan publik baru yang sederhana, mudah diakses, dan berdampak langsung. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan