EXPRESI.co, SANGATTA — Tak banyak forum rohani yang mengajak jemaatnya merenungkan ulang cara mereka memperlakukan sampah rumah tangga. Namun, itulah yang terjadi dalam kegiatan pembinaan Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Jemaat Rama, Klasis Kutai Timur, baru-baru ini.
Bertempat di Sekretariat Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Kutim dan diikuti 45 peserta, acara ini menggabungkan ibadah gabungan dengan dua sesi pembinaan, yaitu komunikasi dalam keluarga dan zero sampah.
Yuliana Kala’ Lembang, pengurus PWGT Klasis Kutim sekaligus ASN di lingkungan Pemkab Kutai Timur, memimpin sesi utama dengan pendekatan menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa komunikasi keluarga bukan sekadar keterampilan interpersonal, tetapi bagian dari kesaksian iman.
“Komunikasi dalam keluarga bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga tentang sikap hati dan kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan,” ujarnya.
Tatapan mata tujuh detik kepada pasangan, suara yang lembut, dan telinga yang siap mendengar anak-anak menjadi contoh konkret yang ia paparkan. Menurutnya, kehangatan keluarga dibentuk dari kehadiran emosional sehari-hari, bukan dari narasi besar.
“Kehangatan tidak bisa dibeli, tapi bisa dibangun pelan-pelan lewat kesediaan untuk hadir dan mendengar,” ucapnya.
Namun sesi kedua yang tak kalah penting adalah pembahasan Zero Sampah, yang dibingkai sebagai bentuk kesalehan yang berdampak nyata.
“Kesalehan dalam keluarga harus tampak pula dalam gaya hidup hemat, ugahari, dan cinta lingkungan,” jelas Yuliana di hadapan para ibu Toraja perantauan.
Ia mengingatkan bahwa kesadaran ekologis tak bisa dipisahkan dari kesaksian iman. Sampah bukan hanya urusan kebersihan, melainkan refleksi dari kesadaran hidup bersama di bumi. Ia mengajak peserta untuk membiasakan memilah sampah dari dapur, mengurangi limbah plastik, dan mengajak anak-anak berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari praktik iman sehari-hari.
Poin-poin reflektif di akhir sesi menegaskan bahwa spiritualitas keluarga tidak berhenti di altar atau meja makan, tetapi menjalar sampai ke tempat sampah, ruang cuci, dan halaman rumah.
“Mari kita ciptakan keluarga yang bukan hanya religius, tapi juga komunikatif, sehat secara mental, dan peduli lingkungan,” pungkas Yuliana.
Acara ini dimoderatori oleh Maya Pakambanan, Ketua PWGT Jemaat Rama, dan disusun sebagai agenda rutin pembinaan keluarga Kristen Toraja di Kutai Timur. Peserta tidak hanya dibekali perspektif teologis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan sehari-hari sebagai ibu, istri, dan pengelola rumah tangga di tengah gempuran budaya modern dan krisis lingkungan.
PWGT Jemaat Rama menutup kegiatan dengan doa bersama, membawa pesan bahwa keluarga Kristen yang sehat tidak hanya dibangun dari doa dan ibadah, tetapi juga dari cara mereka memperlakukan satu sama lain dan bumi tempat mereka tinggal. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan