EXPRESI.co, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur tengah mendorong perubahan mendasar dalam layanan kesehatan publik. Melalui program Pelayanan Ramah Anak di Puskesmas (PRAP), pendekatan yang selama ini berfokus pada fungsi penyembuhan kini diperluas menjadi ruang yang memprioritaskan pemahaman atas hak, perasaan, dan kenyamanan anak.
PRAP digulirkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat sistem perlindungan anak dari lini terdepan layanan kesehatan. Langkah ini bukan tanpa alasan. Data menunjukkan 43 persen anak Indonesia memilih puskesmas sebagai tempat berobat. Situasi tersebut mendorong hadirnya standar layanan yang lebih empatik.
“PRAP adalah bentuk nyata keberpihakan negara kepada anak. Dengan puskesmas yang ramah anak, kita bukan hanya mengobati sakitnya, tapi juga menjaga hak, kenyamanan, dan tumbuh kembang mereka. Inilah fondasi menuju Indonesia Layak Anak 2030,” ujar Ety Sri Nurhayati, Perencana Ahli Muda Kementerian PPA RI.
Ety menjelaskan bahwa hingga akhir 2024, sebanyak 4.109 puskesmas telah menginisiasi layanan ramah anak. Dari jumlah tersebut, 80,9 persen telah mendapatkan Surat Keputusan dari kepala daerah. Meski begitu, ia mencatat perlunya peningkatan tenaga terlatih dan standardisasi nasional agar program ini bisa diterapkan secara optimal.
Di Kutim, penguatan dilakukan melalui pelatihan tenaga medis dari sembilan puskesmas yang digelar di Balikpapan. Dari pelatihan ini, para petugas medis tidak hanya dibekali ilmu medis, tetapi juga pendekatan psikososial berbasis empati anak.
“Kami dilatih untuk lebih peka pada kebutuhan anak. Saat anak merasa nyaman, proses pemeriksaan jadi lancar, dan orang tua pun lebih tenang,” ungkap Bidan Fani dari Puskesmas Kecamatan Kaubun.
Kenyamanan serupa dirasakan oleh Rahma, ibu muda yang juga pegawai DPPPA Kutim. Menurutnya, kini puskesmas memiliki pojok bermain, ruang laktasi, penyediaan popok bayi, serta komunikasi dokter yang lebih bersahabat bagi anak-anak.
“Saya merasa lebih percaya untuk membawa anak berobat,” ujarnya.
Idham Cholid, Kepala Dinas PPPA Kutim, menegaskan bahwa PRAP bukan sekadar program pendukung. Bagi Pemkab Kutim, PRAP adalah bagian dari misi besar menjadikan Kabupaten Layak Anak.
“Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. PRAP bukan hanya program, tapi wujud nyata bahwa kesehatan anak adalah investasi masa depan Kutai Timur dan Indonesia,” tegasnya. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan