EXPRESI.co, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mematangkan perencanaan pembangunan kawasan transmigrasi di Kecamatan Kaliorang. Melalui Forum Grup Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Rencana Teknis Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA), Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutim menegaskan komitmennya menjadikan Kawasan Transmigrasi Maloy Kaliorang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru.

FGD yang digelar di Ruang Damar, GSG Bukit Pelangi, menghadirkan tim dari Ditjen Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (PEPMT), akademisi ITS Surabaya, dan berbagai perangkat daerah terkait.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyebut, penyusunan dua dokumen strategis, yaitu Rencana Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi serta Studi Kelayakan Sarana Produksi, merupakan pijakan awal pengembangan kawasan berbasis potensi lokal.

“Kawasan ini memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Kawasan Industri Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Potensi sumber daya alam, pertanian, perikanan, dan SDM transmigran yang produktif menjadi modal besar bagi terbentuknya pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis produk unggulan lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah pusat, akademisi, dan daerah sangat penting untuk mewujudkan kawasan transmigrasi yang produktif dan berkelanjutan.

“Kunjungan dan kolaborasi ini merupakan bentuk dukungan nyata Pemerintah Pusat dan dunia akademik bagi percepatan pembangunan kawasan transmigrasi di Kutim, khususnya Kawasan Transmigrasi Maloy Kaliorang,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Distransnaker Kutim Roma Malau menegaskan bahwa program transmigrasi kini telah berevolusi.

“Transmigrasi masa kini bukan lagi sekadar pemindahan penduduk, tetapi telah bertransformasi menjadi sistem pembangunan wilayah yang terintegrasi dengan berbagai subsektor ekonomi,” ujarnya.

Dari pihak akademisi, Fadlilatul Taufany dari ITS menyampaikan, pihaknya akan melakukan kajian pengembangan rumah produksi dari produk unggulan di Kutim, seperti pisang, padi, dan kelapa sawit.

“Ada banyak potensi luar biasa yang bisa dikembangkan, mulai dari sektor ketahanan pangan hingga perkebunan. Kami siap membantu agar pengembangan kawasan ini lebih terarah dan berbasis data ilmiah,” tuturnya.

Melalui forum ini, Pemkab Kutim berharap dapat menghasilkan rencana teknis dan peta jalan pembangunan transmigrasi yang komprehensif, menjadikan Maloy Kaliorang sebagai model kawasan ekonomi terpadu di pesisir timur Kalimantan Timur.  (ADV/ProkopimKutim/E)