EXPRESI.co, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan ulang strategi besar-besaran dalam menghadapi persoalan stunting. Dalam rapat koordinasi internal Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terbaru, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) menegaskan bahwa tak boleh ada OPD yang hanya jadi penonton.
“Tidak ada perangkat daerah yang tidak terlibat. Semua harus ikut andil dalam menurunkan angka stunting,” tegas Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi B, dalam rakor yang digelar di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim.
Penekanan itu mencuat seiring rencana pembentukan ulang TPPS periode 2025–2028, menyusul berakhirnya masa berlaku surat keputusan sebelumnya pada Desember 2024. Proses ini bukan sekadar administratif. DPPKB menyebutnya sebagai langkah wajib untuk menyesuaikan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
“Pemerintah pusat melalui Kemendukbangga Kaltim telah memberikan mandat agar segera dibentuk TPPS baru di daerah. Ini menjadi kebutuhan mendesak agar target peningkatan Sumber Daya Manusia unggul secara nasional bisa tercapai,” jelas Junaidi.
Dalam rapat tersebut, Junaidi juga menyampaikan instruksi khusus dari Wakil Bupati selaku Ketua TPPS. Setiap kepala dinas wajib menjadi orang tua asuh minimal tiga anak stunting atau keluarga risiko stunting (KRS) berdasarkan data By Name By Address (BNBA).
Selain memperbarui struktur, DPPKB juga menyoroti pentingnya ketepatan data dalam penyaluran Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita usia 0–23 bulan. Salah sasaran bukan hanya mengurangi efektivitas, tapi juga berpotensi menghambat evaluasi nasional.
“Data yang tepat sangat penting agar intervensi gizi bisa tersalurkan dengan baik dan mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat,” tegasnya lagi.
Turut hadir dalam rakor ini perwakilan Dinas Kesehatan Kutim, Hj. Irma Aryani, yang memaparkan update lokus stunting terkini. Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Ani Saida, juga menjelaskan arah penguatan program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
Dengan kehadiran BAZNAS, Forkopimda, hingga dinas-dinas teknis, pertemuan ini memberi sinyal kuat bahwa semua lini akan digerakkan dalam perang terstruktur melawan stunting. Tidak ada lagi ruang untuk jalan sendiri-sendiri.* (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan