EXPRESI.co, SANGATTA – Pemerataan akses program Pasar Murah menjadi perhatian serius Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim). Meski sebagian besar kecamatan telah terjangkau, sejumlah wilayah terpencil masih menghadapi hambatan logistik akibat jarak jauh dan kondisi infrastruktur.
Hal tersebut disampaikan Pengawas Perdagangan Dalam Negeri Ahli Muda Disperindag Kutim, Ahmad Doni Erfiyadi. Menurutnya, tujuan utama program ini tetap sama sejak 2022: memastikan masyarakat di kecamatan bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. “Pasar murah ini sudah kami laksanakan sejak 2022 bersama Kabid Bapak Erwin. Tujuannya agar masyarakat di kecamatan juga bisa mendapatkan harga bahan pokok yang lebih terjangkau,” ungkapnya.
Doni menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat Kutim umumnya menggunakan produk premium. Karena itu, tujuh komoditas yang disalurkan melalui pasar murah disesuaikan dengan kebutuhan warga, seperti beras Mbok Darmi, minyak goreng Bimoli atau Fit, hingga gula premium. Harga paket sembako senilai Rp300.000 cukup ditebus Rp100.000 melalui subsidi pemerintah.
Meski demikian, Doni mengakui tantangan terbesar berada pada wilayah-wilayah dengan akses jalan terbatas. Beberapa kecamatan bahkan harus ditempuh dengan biaya transportasi mencapai ratusan ribu rupiah, sehingga efektivitas pasar murah perlu dihitung secara cermat.
Untuk memastikan pemerataan, Disperindag bekerja sama dengan kecamatan, termasuk dalam distribusi kupon prioritas untuk keluarga terdampak stunting. “Kupon kami serahkan ke kecamatan karena mereka yang tahu data stunting dan masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Doni menegaskan bahwa pihaknya bersama Inspektorat Wilayah dan Bappeda tengah mencari solusi agar pasar murah dapat menjangkau seluruh kecamatan tanpa membebani biaya logistik. Dengan upaya ini, Disperindag berharap pada 2026 program pasar murah dapat kembali dilaksanakan lebih luas dan merata. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan