EXPRESI.co, KUTIM – Aktivitas truk pengangkut material perusahaan semen yang melintasi kawasan permukiman Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mulai menjadi perhatian serius dari sisi kesehatan masyarakat.

‎Lalu lintas kendaraan bertonase besar tersebut dinilai berpotensi meningkatkan paparan debu di lingkungan warga.

‎Selain risiko kecelakaan lalu lintas, debu yang ditimbulkan dari aktivitas angkutan industri itu dikhawatirkan berdampak pada kesehatan, khususnya meningkatnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

‎Bahkan, dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi berkorelasi dengan kasus stunting pada anak.

‎Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa secara medis, paparan debu di lingkungan permukiman memang dapat memicu gangguan pernapasan.

‎“Tentu saja kalau secara medis namanya debu, itu jelas akan terhirup sehingga mengganggu saluran pernapasan termasuk ISPA. Kasus ISPA kemungkinan bisa meningkat ya. Cuma saya belum melihat datanya, nanti kita akan cek,” ujarnya, Selasa 10 Februari 2026.

‎Ia menjelaskan, peningkatan partikel debu di udara secara teori pasti berdampak terhadap kesehatan saluran pernapasan warga yang terpapar setiap hari. Karena itu, Dinas Kesehatan Kutim berencana melakukan penelusuran data terbaru terkait kasus ISPA di wilayah Bengalon, termasuk Desa Sekerat, guna memastikan apakah terdapat tren kenaikan kasus.

‎Tak hanya ISPA, Yuwana juga menyoroti potensi dampak lanjutan terhadap tumbuh kembang anak, terutama bayi dan balita. Infeksi saluran pernapasan yang terjadi secara berulang dinilai dapat mengganggu proses pertumbuhan.

‎“Kalau yang bayi-bayi ini tentu akan mempengaruhi. Dengan adanya infeksi saluran napas atas pada bayi dan balita tadi, ini kan pengaruh juga ke stunting, ke pertumbuhan tadi. Ada korelasinya,” kata Yuwana.

‎Meski demikian, Dinas Kesehatan Kutim belum dapat memastikan besaran angka kasus yang secara langsung berkaitan dengan kondisi lingkungan akibat aktivitas industri di Desa Sekerat.

‎“Soal angkanya, belum kita lihat ya. Khusus Sekerat kita belum lihat datanya,” tambahnya.

‎Ke depan, Dinkes Kutim berencana meninjau ulang sejumlah indikator kesehatan masyarakat, mulai dari data ISPA, kondisi kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga aspek sanitasi.

‎Langkah ini dilakukan untuk memetakan potensi risiko kesehatan yang mungkin muncul seiring meningkatnya aktivitas industri di kawasan permukiman warga.(Yuristio)