EXPRESI.co, BONTANG – Hadapi situasi keuangan yang terus mengalami penurunan, Pemerintah Kota Bontang terus berupaya menghidupkan sumber pendapatan asli daerah.
Selama ini, Kota Bontang masih sangat bergantung pada transfer pusat. Lebih dari 85 persen pendapatan berasal dari pusat. Kondisi ini membuat keuangan daerah rentan.
Karena itu, di tahun 2026 ini Pemkot melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) membuatĀ sejumlah inovasi untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah.
Salah satunya dengan pelayanan publik yang dibuat mudah diakses masyarakat.
“Pelayanan publik harus ditingkatkan biar trust (kepercayaan) masyarakat meningkat,” jelas Kepala Bapenda Natalia Trisnawati saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Jumat 5 Juni 2026.
“Kondisi perekonomian yang lagi menurun tetapi bagaimana kita tetap terus eksis dengan sumber-sumber pemasukan pendapatan di pemerintah Kota Bontang,” tambahnya.
Sejumlah inovasi yang dilakunan Bapenda tersebut, antara lain e-SPPT (Elektronik Surat Pemberitahuan Pajak Terutang), integrasi SIMPATDA (Sistem Informasi Pendapatan Daerah) dan SISMIOP (Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak) ke Bapenda Etam.
“Kami juga menyalaraskan jemput bola dan Bapenda mengajar atau kita sebut programnya Sapa Bapenda,” jelasnya.
Katanya inovasi ini sangat membantu peningkatan PAD Kota Bontang. Hingga 31 Mei 2026 kinerja PAD menunjukkan tren positif dengan realisasi mencapai 28,92 persen atau Rp65,64 miliar dari target Rp226,98 miliar.
Katanya, Bapenda Kota Bontang terus memperkuat strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah guna menjaga tren pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.
“Setiap rupiah pajak yang dibayarkan masyarakat dan pelaku usaha merupakan investasi nyata untuk mendukung pembangunan, pelayanan publik, serta kemajuan Kota Bontang,” tandasnya. (Sal/adv)

Tinggalkan Balasan