EXPRESI.co, KUTIM – Ancaman banjir akibat tingginya intensitas hujan di wilayah Sangatta tak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga sempat melumpuhkan layanan air bersih.

‎Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Kutim) mengungkap, peristiwa banjir ekstrem pada 2022 lalu sempat menghentikan operasional intake air baku hingga tiga hari.

‎Direktur Teknik Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Galuh Boyo Munanto, menyebutkan penghentian operasional tersebut dilakukan demi menjaga keamanan instalasi di tengah kondisi debit Sungai Sangatta yang melonjak drastis.

‎“Tahun 2022 ada riwayat 2 intake terdampak banjir ekstrim yang mengakibatkan unit sempat harus shutdown 42-72 jam (3 hari) demi keamanan instalasi,” ungkapnya, Senin 30 Maret 2026.

‎Dampaknya, distribusi air bersih ke pelanggan ikut terhenti. Perumdam saat itu terpaksa mengandalkan distribusi air darurat menggunakan truk tangki, khususnya untuk memenuhi kebutuhan air minum warga.

‎Untuk meminimalisir dampak, masyarakat juga telah diimbau lebih awal agar menyiapkan cadangan air di rumah masing-masing.

‎Belajar dari kejadian tersebut, Perumdam kini melakukan penyesuaian sistem intake agar lebih adaptif terhadap fluktuasi muka air sungai yang kerap terjadi saat musim hujan.

‎Galuh menjelaskan, saat ini terdapat 24 unit intake yang tersebar di berbagai wilayah, terdiri dari 12 unit ponton, 5 unit jembatan, 6 unit sumuran, dan 1 unit bronkaptering.

‎Khusus di wilayah Kudungga, sistem intake menggunakan model ponton atau floating yang dinilai lebih fleksibel menghadapi perubahan tinggi muka air.

‎“Model ponton/floating aman terhadap naik turunnya muka air baku yang fluktuatif. Demikian untuk unit-unit yang berpola ponton relatif aman terhadap perubahan tinggi level sungai,” jelasnya.

‎Sementara itu, untuk intake tipe tetap seperti sumuran, desainnya telah disesuaikan dengan data historis elevasi air sehingga tetap dapat beroperasi dalam kondisi normal.

‎Meski demikian, ia mengakui banjir tetap menjadi tantangan serius, tidak hanya mengganggu layanan tetapi juga menimbulkan beban tambahan seperti pembersihan sampah dan endapan lumpur pada fasilitas intake, hingga potensi kerugian akibat terhentinya distribusi air.(Yuristio)