EXPRESI.co, KUTIM – Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Selain tingginya jumlah data ATS, validasi data di lapangan juga menjadi tantangan dalam memastikan anak usia sekolah benar-benar mendapatkan akses pendidikan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim mencatat, dari total 10.112 data ATS yang masuk, sebanyak 5.531 data telah diverifikasi. Sementara 4.579 data lainnya masih dalam proses pendataan ulang.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan penanganan ATS tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga memastikan kondisi riil anak-anak di lapangan.
“ATS ini menjadi persoalan yang sangat penting untuk diselesaikan. Terlepas dari data yang mungkin belum valid, itu menjadi tugas kami untuk memvalidasi data tersebut. Yang terpenting adalah upaya konkret yang dilakukan,” ujarnya.
Menurut Mulyono, Disdikbud Kutim saat ini menjalankan tiga langkah utama dalam penanganan ATS. Pertama, memastikan seluruh anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan. Kedua, mencegah anak yang sudah bersekolah agar tidak putus sekolah.
Sementara langkah ketiga adalah mengembalikan anak yang sudah putus sekolah namun masih berada pada usia sekolah agar kembali melanjutkan pendidikan formal.
Sedangkan bagi masyarakat yang sudah berada di luar usia sekolah, pemerintah menyediakan jalur pendidikan nonformal melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Tujuannya agar mereka tetap memiliki ijazah dan keterampilan sebagai bekal mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Ia menegaskan, pendataan ulang terus dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari perhatian pemerintah daerah. Dalam proses tersebut, Disdikbud Kutim turut melibatkan pemerintah desa, RT, PKK hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Ini kerja kolaborasi. Tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja,” ucapnya.
Sebelumnya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai secara umum fasilitas pendidikan di Kutim sebenarnya telah tersedia hingga ke wilayah pelosok. Namun, masih ditemukan berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah atau tidak tercatat dengan baik dalam data pendidikan.
“Sepertinya kita sekolah sudah ada di mana-mana. Yang jadi pertanyaan, mereka tidak sekolah itu kenapa? Kemudian ada yang memang sekolah tetapi mereka tidak lagi di tempatnya,” katanya.
Menurut Ardiansyah, persoalan ATS perlu ditangani secara menyeluruh, terutama untuk memastikan keakuratan data sekaligus mengetahui penyebab utama anak-anak tidak melanjutkan pendidikan.(Yurietio)

Tinggalkan Balasan