EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Fraksi Gelora Amanat Perjuangan (GAP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur menyampaikan kritik keras terkait postur Pendapatan Daerah dalam Nota Penjelasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026.

Sorotan utama Fraksi adalah proyeksi pendapatan yang anjlok sangat signifikan, menciptakan tantangan fiskal yang besar bagi Pemerintah Kabupaten.

Dalam Pandangan Umum yang disampaikan, Fraksi GAP mencatat bahwa proyeksi Pendapatan Daerah untuk tahun 2026 hanya mencapai Rp 5,736 triliun.

Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena menunjukkan penurunan drastis, nyaris separuh, jika dibandingkan dengan APBD Murni tahun 2025 yang mencapai Rp 11,15 triliun, atau APBD Perubahan 2025 sebesar Rp 9,9 triliun. Kondisi ini, menurut Fraksi, memerlukan kejujuran dan transparansi penuh dari pihak Eksekutif.

WhatsApp Image 2025 11 10 at 22.56.52 b5a22c5a 1

Sekretaris Fraksi GAP, Shabarrudin, mendesak agar Pemerintah Daerah segera memaparkan strategi mitigasi yang jelas di tengah defisit yang mengejutkan ini.

“Oleh karena itu, Fraksi Gelora Amanat Perjuangan meminta agar Pemerintah Daerah memberikan penjelasan yang rinci mengenai penyebab utama penurunan pendapatan ini, langkah penyesuaian kebijakan fiskal apa yang telah disiapkan, serta strategi penguatan PAD yang realistis,” tegas H. Shabarrudin dalam Paripurna tersebut.

Lebih lanjut, Fraksi GAP mengingatkan bahwa keterbatasan anggaran ini menuntut reformasi prioritas pembangunan.

Pemerintah wajib melakukan efisiensi dan mengarahkan dana yang tersedia pada program-program yang memberikan dampak berlipat (multiplier effect) langsung kepada masyarakat.

Sektor-sektor yang harus diprioritaskan antara lain adalah pertanian, pemberdayaan ekonomi desa, upaya pengentasan kemiskinan, dukungan bagi UMKM, dan penguatan ketahanan pangan daerah, demi memastikan APBD 2026 tetap berpihak pada kesejahteraan rakyat.

“Tranformasi ekonomi Kutai Timur harus dimulai dari sektor-sektor yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama,” pungkasnya. (Adv)