EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Persoalan tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis, masih menjadi pekerjaan besar yang disorot warga dalam reses anggota DPRD Kutai Timur, Novel Tyty Paembonan. Menurutnya, keluhan soal kekurangan dokter di fasilitas kesehatan tingkat kecamatan muncul hampir di setiap titik reses yang ia kunjungi.

Novel menjelaskan, saat ini Kutai Timur masih relatif mampu memenuhi kebutuhan dokter umum maupun dokter gigi. Namun, persoalan utama terletak pada ketersediaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis. Penempatan dokter spesialis di daerah, terutama wilayah terpencil, sering terkendala karena banyak dari mereka tidak bersedia bertugas di kecamatan yang jauh dari pusat kota.

“Yang paling sulit adalah dokter spesialis. Mereka tidak mudah ditempatkan di daerah-daerah terpencil. Ini bukan masalah baru, tapi justru semakin terasa dampaknya bagi masyarakat,” jelas Novel.

Ia menyoroti persoalan lain yang ikut memperburuk situasi, yaitu adanya dokter spesialis yang dibiayai pemerintah melalui beasiswa tetapi tidak menjalankan kewajiban tugas sesuai perjanjian. Ada yang hanya mengabdi beberapa bulan sebelum pindah ke daerah lain, sehingga kebutuhan tenaga ahli di daerah kembali kosong.

Novel menegaskan perlunya ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan bagi penerima beasiswa pendidikan spesialis. Menurutnya, keberadaan tenaga spesialis adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap layanan kesehatan.

Selain itu, warga juga mempertanyakan efektivitas program Nusantara Sehat, yang selama ini sering menjadi solusi sementara ketika tenaga medis kurang. Novel menilai program tersebut bersifat sporadis dan tidak dapat dijadikan sandaran utama.

“Itu sifatnya sementara. Kadang ada tahun ini, tapi hilang tahun depan. Kita tidak bisa menggantungkan keberlanjutan pelayanan kesehatan pada program yang tidak konsisten,” tegasnya.

Novel menilai akar persoalan ada pada lemahnya sistem kesehatan daerah yang belum sepenuhnya kokoh. Penguatan fasilitas seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu, hingga Rumah Sakit Pratama harus dibarengi dengan pemenuhan SDM, obat-obatan, dan manajemen yang profesional.

Ia mencontohkan Rumah Sakit Pratama Sangkulirang yang kini sudah memiliki dokter kandungan dan tenaga anestesi. Keberadaan fasilitas dasar operasi di kecamatan telah terbukti menyelamatkan nyawa ibu dan bayi tanpa harus dirujuk jauh ke rumah sakit kabupaten.

“Kalau fasilitas dan tenaga medis lengkap, masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh. Ini bukti bahwa sistem yang kuat benar-benar membantu,” tutup Novel. (advertorial)