Expresi, Bontang — Kabar gembira dan membanggakan kembali datang ke Kota Bontang. Dapat gelontoran bantuan untuk investasi jangka panjang serta berkelanjutan.

Kota Bontang resmi dipilih sebagai lokasi percontohan (pilot project) pengelolaan sampah menjadi energi oleh Pemerintah Provinsi Jeju, Korea Selatan.

Program hibah senilai USD 9,3 juta atau sekitar Rp155,9 miliar ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Bontang dan Pemerintah Provinsi Jeju, difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK).

Rombongan Pemerintah Provinsi Jeju, bersama perwakilan KLHK/Badan Pengendalian Lingkungan, Desi Florita Syahri, melakukan kunjungan ke Bontang, Selasa lalu.

Kunjungan dimulai dengan pertemuan di Ruang Pertemuan Utama Kantor Wali Kota, dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bontang Lestari untuk melihat proses pengelolaan dan pemrosesan limbah.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang didampingi Kepala Bapenda, Syahruddin menyampaikan, bahwa proyek ini merupakan hasil pembahasan panjang sejak 2023.

“Ini adalah kunjungan ketiga, setelah sebelumnya pada September 2023 dan Desember 2024. Kali ini mereka datang untuk survei pra-kelayakan dan finalisasi rencana pelaksanaan proyek,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, kerja sama tersebut meliputi sejumlah program strategis, antara lain pembangunan 30 Rumah Bersih di empat kecamatan, pembangunan fasilitas biodigester di lahan seluas 1,5 hektare di TPA Bontang Lestari, pengembangan fasilitas pemilahan dan pengemasan daur ulang, serta pelatihan dan kampanye pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Pemkot Bontang sangat siap menerima dukungan ini. Kami berharap proyek ini segera terealisasi karena menjadi solusi untuk memperpanjang usia TPA sekaligus menciptakan energi terbarukan,” ucapnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, Bontang menghasilkan sekitar 39.504 ton sampah per tahun atau rata-rata 108 ton per hari. Dengan usia TPA yang diperkirakan hanya tersisa 3–4 tahun, proyek ini dinilai menjadi langkah penting menuju pengelolaan sampah berkelanjutan.

Perwakilan Jeju National University, Bae Sung Kim, mengungkapkan alasan pemilihan Bontang sebagai lokasi percontohan.

“Kondisi Bontang saat ini mirip dengan Jeju dua dekade lalu, saat kami menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Melalui proyek ini, kami berharap Bontang bisa mandiri dalam mengelola limbah sekaligus menghasilkan biogas,” ujarnya.

Ia menegaskan, Bontang menjadi kota pertama di Indonesia yang dijadikan lokasi pilot project pengelolaan sampah oleh Pemerintah Provinsi Jeju. “Kami ingin program ini menjadi bagian dari ekonomi sirkular dan energi terbarukan masa depan,” imbuhnya. (Adv)