EXPRESI.co, SANGATTA — Kutai Timur tak hanya dikenal sebagai daerah penghasil batubara, tetapi kini mulai dilirik sebagai pionir dalam tata kelola pertambangan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Hal ini mencuat dalam audiensi antara Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Kutim, yang mengundangnya sebagai pembicara di forum nasional bertema pengelolaan Dana Bagi Hasil (DBH) bagi daerah penghasil sumber daya mineral dan batubara.
Ketua PERHAPI Kutim, Zulfikar Rahman Sagala, menyebut bahwa forum tersebut akan menjadi ajang penting untuk mengenalkan konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) secara lebih luas di tingkat nasional. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan standar ESG secara nasional dan mempromosikan Kutim sebagai daerah yang peduli terhadap tata kelola pertambangan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain forum utama, PERHAPI juga akan menggelar Focus Group Discussion Nasional terkait Standarisasi ESG Batubara. Kegiatan ini dijadwalkan bertepatan dengan Hari Pertambangan, HUT PERHAPI, dan HUT Kabupaten Kutai Timur, menjadikannya momentum simbolik bagi industri pertambangan nasional.
Sementara itu, Bupati Ardiansyah merespons undangan tersebut dengan positif, meski mengingatkan soal agenda padat yang telah terjadwal. “Saya akan berusaha menyiapkan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Saya akan pelajari topik yang akan dijadikan bahan diskusi,” ucapnya. Ia juga menyebutkan adanya kegiatan LEMHANAS dan peringatan Hari Pahlawan pada bulan yang sama, sebagai pertimbangan dalam penjadwalan.
Dengan anggota mencapai 240 orang dari berbagai perusahaan tambang, PERHAPI Kutim tampak serius menempatkan daerah ini sebagai contoh transformasi industri yang mengarah pada praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Forum ini sekaligus menjadi ujian awal bagi Kutim untuk tampil sebagai wajah baru pertambangan berkelanjutan di Indonesia. (ADV/ProkopimKutim/E)

Tinggalkan Balasan