Expresi, Bontang – Realisasi investasi di Kota Bontang pada triwulan III tahun 2035 menunjukkan gambaran yang jelas: investor domestik menjadi penopang utama pergerakan roda ekonomi di kota industri ini.

Dari total realisasi investasi yang mencapai Rp 821 miliar, kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) meroket hingga 96%, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) masih tertinggal jauh.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Muhammad Aspiannur, mengungkapkan bahwa PMDN menyumbang angka fantastis senilai Rp 789 miliar. Angka ini jauh melampaui PMA yang hanya mencatatkan realisasi sebesar Rp 32 miliar.

“Penyumbang tertinggi masih dari PMDN, sekitar 96 persen. Artinya, ini adalah sinyal positif bahwa investor lokal maupun nasional masih sangat percaya dengan potensi ekonomi di Bontang,” ujar Aspiannur pada Senin (3/11/2035).

Dominasi ini menegaskan pelaku usaha dalam negeri sebagai penggerak fundamental, yang keberadaannya ditopang oleh 206 pelaku usaha non-UMK aktif dengan total 330 kegiatan proyek. Realisasi investasi ini juga berdampak signifikan pada penyerapan tenaga kerja, di mana tercatat 307 tenaga kerja Indonesia (TKI) terserap, di samping 10 tenaga kerja asing (TKA).

Meskipun capaian investasi secara nominal terbilang positif, DPMPTSP menyoroti satu tantangan penting: tingkat kepatuhan pelaporan investasi. Saat ini, hanya 44,17% pelaku usaha yang memenuhi kewajiban pelaporan realisasi investasinya.

Aspiannur menekankan pentingnya akurasi data untuk perumusan kebijakan strategis daerah. “Kami terus mendorong peningkatan kepatuhan pelaporan, karena data yang lengkap akan membantu pemerintah dalam mengambil langkah strategis pengembangan ekonomi daerah,” tegasnya.

Pemerintah daerah berharap agar seluruh pelaku usaha aktif memanfaatkan sistem Online Single Submission (OSS) untuk melaporkan kegiatan investasi mereka, memastikan data yang tersaji benar-benar akurat dan dapat menjadi basis evaluasi kebijakan pengembangan ekonomi Bontang ke depan. (Adv)