EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Kondisi infrastruktur di Kecamatan Sandaran kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Kutai Timur, Akhmad Sulaiman, mengungkapkan bahwa keterisolasian di wilayah pesisir itu masih sangat terasa, terutama bagi warga di Desa Tanjung Mangkalihat dan Desa Sandaran. Hingga kini, dua desa tersebut hanya bisa ditembus melalui jalur darat dengan melewati Kabupaten Berau.

“Bayangkan, kalau mau ke dua desa itu kita harus melewati Berau dulu. Tidak ada konektivitas langsung dari Kutai Timur,” ujar Sulaiman.

Ia menyebut kondisi ini tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga berdampak besar pada akses layanan publik, distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi.

Selain jalur darat, akses laut sebenarnya tersedia, namun belum memadai karena belum adanya pelabuhan resmi di kecamatan tersebut. Ahmad menilai situasi ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa pembangunan pelabuhan Menubar harus segera direalisasikan.

“Konektivitas kita betul-betul terputus. Makanya selain jalan, pelabuhan juga sangat penting,” tegasnya.

Ia menambahkan, kondisi infrastruktur di Sandaran tertinggal hampir di semua sektor. Mulai dari akses transportasi, perkembangan pendidikan, hingga pelayanan dasar lainnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan, mengingat kebutuhan masyarakat jauh lebih mendesak dibanding beberapa wilayah lain.

Menurut Ahmad, ketimpangan pembangunan ini juga diperparah oleh minimnya sinyal komunikasi yang stabil. “Sinyal saja terputus. Jadi bukan hanya jalan yang sulit, komunikasi pun terbatas,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah melihat kondisi ini sebagai urgensi, bukan sekadar daftar usulan rutin. “Sandaran sudah tertinggal bertahun-tahun. Ini bukan soal pemerataan per kecamatan, tapi soal mengejar ketertinggalan yang nyata,” ujarnya.

Dengan rencana pembangunan jalan dan pelabuhan yang sudah diusulkan, Ahmad berharap isolasi Sandaran dapat segera teratasi dalam beberapa tahun ke depan.(Adv)