EXPRESI.co, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang Terus menggalakkkan program yang berguna untuk menekan kasus stunting di Kota Taman.

Melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas yang ada di Kota Bontang, Pemerintah gencar mensosialisasikan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara berkala guna menghindari resiko terkena stunting.

Ahli Gizi Puskesmas Bontang Barat, Wilman Pasaribu menyebut bahwa saat ini pihaknya terus melakukan skrining di tingkat posyandu, “mereka yang kami temukan memiliki bayi beresiko stunting langsung kita bawa ke puskesmas untuk diberi edukasi terkait menu makanan yang sesuai bagi anak tersebut,” ungkap dia saat ditemui, Senin (27/5/2024) kemarin.

Wilyam menjelaskan bahwa resiko stunting sebenarnya sudah ada jauh sebelum bayi tersebut lahir. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi orang tua terkhususnya remaja putri yang mengalami anemia, maupun ibu hamil yang kekurangan Gizi.

“Makanya mulai dari ibu hamil dan remaja kita sudah push biar gizinya tercukupi. Masalah kita memang, pada beberapa kasus nanti usia kandungannya sudah 4 bulan baru memeriksakan diri, nah yang seperti itu kadangkala yang membuat intervensi lambat dan resiko stuntingnya besar,” kata Nutrisionis itu.

Lantaran itu, dia menyarankan agar para ibu hamil lebih giat memeriksakan kesehatannya demi mencegah kondisi yang tidak diinginkan.

“Supaya jangan stunting, makanya rajin ke Posyandu karena di sana itu kan jelas para kader itu sudah dilatih,” ujar dia.

Lebih lanjut, Wilman juga mengungkapkan saat ini banyak konten di media sosial yang sebenarnya bisa dicontoh untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar terhindar dari resiko stunting.

Meski begitu, Wilman juga meminta agar konten tersebut bisa dicerna dengan baik, kalau perlu selalu mengkonsultasikannya terlebih dahulu pada yang ahli sebelum memberikannya ke anak.

“Jadi memang konten tersebut berpengaruh bagi kualitas gizi anak kalau yang diberikan itu sesuai dengan kondisi anak. Tapi kan untuk mengkonfirmasi di konten yang didapat dari Tiktok ataupun media sosial itu sulit, makanya mending tanya lagi ke puskesmas nah itu lebih bagus,” jelasnya.

“Karena kita kadang-kadag gak bisa menyamakan antara apa yang ada di konten tersebut dengan kondisi setiap anak. Terlebih kebutuhan setiap anak itu kan berbeda,” tandasnya. (Ca/Adv)