EXPRESI.co, BONTANG — Masjid Tua Al-Wahhab, salah satu bangunan yang punya daya tersendiri. Bentuk bangunannya unik, menyimpan kesan mengenai cerita asal-usulnya yang jarang terekam memori ingatan generasi sekarang.

Masjid itu kokoh mencolok di antara bangunan tembok Jalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara.

IMG 7238

Masjid Tua tersebut berdiri dengan material kayu ulin. Menghadap ke jalan dengan menampilkan papan hijau bertuliskan ”Masjid Tua Al-Wahhab, Berdiri-Bontang-Th-1789 M.”

Salah satu orang yang diberi kepercayaan mengurus tanah wakaf masjid, Iwan Susanto, menyampaikan Masjid Tua Al-Wahhab dikenal melalui cerita masyarakat lintas generasi. Tak ada dokumen pasti mengenai sejarah berdirinya di Bontang.

“Dikenal dari cerita turun-temurun yang disampaikan orang-orang tua terdahulu,” tutur Iwan saat di temui di rumahnya, Sabtu, 22 November 2025.

Kehadiran masjid tua ini tidak bisa lepas dan menjadi bagian dari cerita masyarakat Bontang. Konon, Masjid ini dibangun pertama kali oleh seorang tokoh agama asal Sulawesi Selatan (Sulsel) bernama Abdul Razak.

Kemudian tokoh tersebut bertemu dengan salah seorang utusan, Habib Ja’far bin Umar Al-Habsy dari Kalimantan Barat (Kalbar) untuk menyebarkan Islam di wilayah pesisir Bontang.

“Mereka yang mendirikan Bangunan Tua ini, dulunya bernama Masjid Api-Api,” ungkap Iwan.

Penamaan itu berangkat dari posisi masjid yang berada tepat di bibir sungai api-api. Terlebih masyarakat Bontang yang dulu itu mendirikan pemukiman kampung di wilayah pesisir laut.

Iwah menuturkan kampung pesisir yang ada di Bontang diceritakan turun-temurun biasa menggunakan Masjid Tua untuk melaksanakan ritus keagamaan. Kampung pesisir seperti Loktuan, Bontang Kuala, Tanjung Limau dan Berbas Basah.

“Cerita orang-orang tua, dulu mereka biasa kalo shalat Jumat ke masjid tua menggunakan kapal kecil berdayung melintasi sungai api-api,” ungkapnya.

Terbengkalai Kemudian Renovasi

Seiring waktu masjid tua itu sempat terbengkalai tanpa ada yang mengurusnya sekitar tahun 1966. Saat itu masjid tidak pernah dipakai kembali namun tetap menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup.

Ingatan masyarakat Bontang yang menuturkan perihal masjid Tua membuatnya terus hidup sekalipun bangunan fisiknya tak terpakai. Cerita tentang masjid tua api-api hidup di tengah perbincangan sehari-hari masyarakat Bontang.

Hingga akhirnya saat Bontang baru memulai wilayah administrasinya sebagai kota otonom, tepatnya tahun 2001, Masjid Tua api-api mendapatkan perhatian pemerintah masa itu untuk dilakukan renovasi ulang.

“Ada 4 tiang yang penyangga yang kami pertahankan (tidak direnovasi) menjadi saksi bisu ingatan masyarakat,” imbuhnya. (Labib)