EXPRESI.co, BONTANG – Dalam rangka memperkuat deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) di Kota Bontang, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat gencar melakukan skrining kesehatan bagi masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk mencapai target 100 persen deteksi PTM, sebuah ambisi besar yang membutuhkan strategi terstruktur dan pendekatan menyeluruh.

Salah satu strategi yang diterapkan Dinkes Bontang adalah dengan memanfaatkan berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi perangkat daerah (OPD). Misalnya, pada acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) Provinsi Kalimantan Timur, yang diadakan di Mangrove Park, Bontang. Di sela-sela keceriaan perayaan ini, Dinkes hadir dengan gerai kesehatan yang menyediakan layanan skrining PTM bagi para pengunjung.

Memanfaatkan Setiap Event untuk Skrining PTM

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Bontang, Bambang Sri Mulyono, menegaskan bahwa setiap event yang berlangsung di Kota Bontang merupakan peluang untuk melakukan skrining. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan momentum ini demi mendekati target 100 persen.

“Capaian skrining harus 100 persen, jadi kalau ada event-event seperti ini, kami hadir untuk mengoptimalkan upaya. Seperti di perayaan Harganas ini, kami memanfaatkan kesempatan untuk menjangkau masyarakat,” ujar Bambang saat ditemui usai penutupan Harganas, Kamis (25/7/2024).

Dinkes tidak hanya hadir dalam acara besar seperti Harganas. Mereka juga menurunkan tim kesehatan ke pasar-pasar dan pusat keramaian lainnya, dengan tujuan memastikan seluruh penduduk Bontang menjalani skrining PTM. “Kami turun ke pasar-pasar karena semua penduduk Bontang diharapkan bisa mengikuti skrining. Ini adalah cara kami agar tidak ada yang terlewatkan,” tambah Bambang.

Antusiasme Masyarakat Terhadap Gerai Kesehatan

Selama tiga hari, dari Selasa (23/7) hingga Kamis (25/7), gerai pemeriksaan kesehatan Dinkes di acara Harganas tersebut menarik perhatian ratusan pengunjung. Rini Damayanti, seorang tenaga kesehatan dari Puskesmas Bontang Selatan 1, mengungkapkan bahwa gerai kesehatan ramai dikunjungi oleh peserta acara, terutama pada hari penutupan.

“Hari ini kami memeriksa sekitar 100 hingga 200 orang, dan jumlah sebenarnya mungkin lebih banyak karena ada beberapa yang tidak tercatat. Ini karena hari ini merupakan puncak acara dan penutupan, sehingga pengunjung semakin banyak, apalagi dengan kehadiran PJ Gubernur,” kata Rini.

Gerai kesehatan ini tidak hanya melakukan skrining PTM, tetapi juga melayani pemeriksaan tekanan darah, yang semakin diminati oleh pengunjung. Menurut Rini, layanan ini sangat penting sebagai langkah awal untuk mendeteksi potensi penyakit tidak menular seperti hipertensi, yang sering kali menjadi pemicu komplikasi kesehatan lebih lanjut.

Meskipun target 100 persen mungkin terdengar ambisius, Dinkes Bontang tampaknya tidak gentar. Dengan strategi yang fokus pada pendekatan langsung ke masyarakat, seperti turun ke pasar dan hadir di acara-acara besar, Dinkes optimistis dapat mendekati target tersebut. Pendekatan jemput bola ini dianggap sebagai salah satu cara efektif untuk mengatasi tantangan keterbatasan akses informasi dan fasilitas kesehatan bagi masyarakat di wilayah Bontang.

Dalam konteks upaya nasional untuk menekan angka penyakit tidak menular, skrining kesehatan seperti yang dilakukan oleh Dinkes Bontang ini memainkan peran krusial. Deteksi dini adalah kunci untuk mencegah berkembangnya penyakit serius yang bisa mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Keberhasilan Dinkes Bontang dalam melaksanakan skrining PTM juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama dengan OPD lain, menjadi faktor penting dalam menjangkau lebih banyak warga. Setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, seperti Harganas, menjadi platform strategis untuk mengedukasi sekaligus melakukan tindakan preventif.

“Dengan sinergi yang kuat dan dukungan dari berbagai pihak, kami percaya bahwa target 100 persen skrining PTM ini bukanlah hal yang mustahil. Kami akan terus bekerja keras untuk memastikan kesehatan masyarakat Bontang terlindungi dengan baik,” tutup Bambang.

Langkah Dinkes Bontang ini merupakan contoh nyata dari komitmen daerah dalam mewujudkan program kesehatan nasional. Skrining PTM, meski sering kali terkesan sepele, memiliki dampak besar dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi beban layanan kesehatan akibat penyakit kronis yang seharusnya bisa dicegah sejak dini. (Fn/Adv)