EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Penurunan hasil panen padi gunung di beberapa kecamatan Kutai Timur (Kutim) membuat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) mengalihkan fokus ke padi gogo, varietas yang lebih mudah dibudidayakan di lahan kering serta memiliki potensi hasil lebih tinggi.

Kabid DTPHP Kutim, Dessy, mengatakan bahwa selama ini padi gunung masih banyak ditanam di wilayah Busang, Long Mesangat, dan Muara Bengkal. Namun, produktivitasnya rendah, hanya sekitar satu ton per hektare.

“Benih terbatas dan kondisi lahan juga tidak mendukung pengelolaan intensif,” tuturnya, Kamis (13/11/2025).

Sebagian besar lahan padi gunung merupakan ladang berpindah yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, DTPHP mendorong petani beralih ke padi gogo yang lebih cocok untuk dibudidayakan di lahan kering dan bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

“Program pengembangan padi gogo mendapat dukungan penuh dari APBN, mulai dari penyediaan benih unggul hingga sarana produksi lainnya,” tambahnya.

Dessy mengakui bahwa padi gunung memiliki cita rasa khas dan nilai budaya bagi masyarakat lokal. Namun dari sisi ekonomi, hasil panennya tidak mampu bersaing.

“Kita tetap menghargai tradisi, tetapi petani perlu komoditas yang produktif dan menguntungkan. Padi gogo bisa menjadi jalan tengah agar budaya bertani tetap hidup namun memberikan hasil lebih baik,” pungkasnya. (Adv)