EXPRESI.co, SANGATTA – Produksi beras lokal di Kabupaten Kutai Timur masih belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Dengan jumlah produksi sekitar 32 ton per tahun, kapasitas ini dinilai belum mencukupi untuk menutup permintaan beras di seluruh wilayah Kutim.
Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Nora, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, jumlah produksi beras lokal saat ini hanya mencapai sekitar 32 ton per tahun.
“Dari total produksi itu, sekitar 10 persen dijual langsung di sekitar wilayah pertanian, sementara sisanya sudah diambil pihak-pihak tertentu melalui sistem blok,” jelas Nora, Sangatta, Rabu(19/11/2025).
Ia menambahkan, meskipun produksi lokal cukup menjanjikan, kapasitas tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan beras di seluruh wilayah Kutai Timur.
Selain terbatasnya jumlah produksi, harga beras lokal juga masih cenderung lebih tinggi dibandingkan HET yang ditetapkan pemerintah. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya produksi serta risiko gagal panen akibat faktor cuaca dan serangan hama.
“Kita tidak bisa memaksa petani menjual di bawah harga produksi mereka. Itu menyangkut kesejahteraan mereka,” tegas Nora.
Ia menjelaskan bahwa tingginya harga beras lokal memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, harga tinggi dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Namun di sisi lain, hal tersebut juga bisa berdampak pada daya beli masyarakat jika tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang cukup.
“Kami harus menyeimbangkan dua kepentingan. Jangan sampai petani rugi, tapi juga masyarakat tidak boleh kesulitan membeli beras,” tutupnya.
Untuk itu, Dsperindag Kutim bersama dinas terkait terus berupaya mencari solusi, termasuk dengan mendorong adanya kebijakan HET di tingkat kabupaten agar harga lebih realistis dan sesuai dengan kondisi lapangan. (Adv)


Tinggalkan Balasan