“Kenali dirimu, kenali musuhmu. Seribu pertempuran, seribu kemenangan” Sun Tzu.
Terlepas dari siapa yang akan keluar sebagai pemenang di Pilwali 2024 nantinya. Kali ini kita coba mengurai beberapa faktor-faktor penting yang berperan dalam menyukseskan pasangan calon kandidat dalam sebuah kontestasi politik dalam Pemilu.
Faktor-faktor ini berdasarkan pada pengalaman dan pembacaan lapangan dari setidaknya dua kali Pilwali sebelumnya tahun 2015 dan 2020 di kota Bontang.
Tentu faktor-faktor penting yang di maksud jelas bukan sesuatu yang sifatnya mutlak benar, namun setidaknya faktor-faktor ini tidak begitu saja dapat diabaikan manakala kita mencoba meneropong sebuah kemenangan dan juga kekalahan dalam sebuah kontestasi politik. Menurut hemat kami, ada 5 (lima) faktor penentu kemenangan di kontestasi politik Pilwali yang akan diuraikan secara singkat sebagai berikut :
Pertama adalah faktor figur kandidat itu sendiri. Masyarakat kita masih memperhitungkan sosok figur dalam menentukan pilihannya. Terkadang tampilan yang enak dilihat dan meyakinkan turut mempengaruhi pemilih. Namun, yang utama terkait dengan soal faktor figur ini adalah rekam jejak kandidat calon itu sendiri. Masyarakat akan cenderung memilih kandidat yang dinilai bersih dari KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), berasal dari keluarga yang baik, memiliki kedekatan primordial dengan masyarakat itu sendiri, dan memiliki prestasi yang dapat dibanggakan.
Beberapa kandidat yang terjerat atau tersangka kasus korupsi, asusila, sering membuat kontraversial, menciptakan keresahan dan memiliki rekam jejak yang buruk akan tidak mendapat simpati banyak dari pemilih. Selain itu, kandidat yang terlihat mudah didekati atau tidak terlalu formal juga lebih banyak disukai. Kesimpulannya, tingkat pengetahuan masyarakat atas sosok kandidat yang bersih dan baik merupakan faktor yang sama sekali tidak dapat diabaikan begitu saja.
Kedua, faktor mesin partai dan jaringan relawan yang solid, militan dan berkomitmen kuat. Terkadang sosok yang tidak terlalu populer atau bahkan tidak termasuk yang diperhitungkan dapat membalikkan situasi. Ini terjadi karena ditopang oleh mesin partai yang kuat ditambah dengan jaringan relawan yang militan dan solid.
Tak jarang tingkat keterpilihan seorang kandidat dapat diolah sedemikian rupa oleh dukungan mesin partai politik dan jaringan relawan yang bekerja secara militan. Hal ini dapat diibaratkan seorang pengendara perahu katinting dengan skill (keterampilan) yang biasa saja namun memiliki tipe mesin turbo perahu katinting yang sangat baik. Maka dukungan mesin partai politik dan jaringan relawan yang berkomitmen kuat, solid dan militan akan tetap berpeluang besar menjadi pemenang.
Sebaliknya, ada pula kasus-kasus yang bisa kita tengok pada Pilwali tahun-tahun sebelumnya, di mana paslon kandidat yang didukung oleh banyak partai politik namun ternyata suara yang diperolehnya tidak menggembirakan. Kondisi ini bisa jadi disebabkan partai dan jaringan relawan sebagai sebuah bagian dari political marketing dan public relation cenderung pasif, tidak militan dan tidak solid atau bahkan tidak bergerak sama sekali. Maka dapat berpotensi besar kandidat calon akan mengalami nasib kekalahan.
Ketiga, dalam pertarungan politik juga diperlukan kemampuan membangun rasa kepercayaan diri dan kedekatan dengan konstituen. Seorang kandidat harus dapat dengan cerdas dan piawai memahami nilai-nilai (values) yang berkembang dan berlaku ditengah masyarakat untuk kemudian meleburka dirinya dengan nilai-nilai itu. Intinya, seorang kandidat tidak bisa terlalu jauh dari akar sosial budaya masyarakat di tempat dia berkontestasi. Pemahaman akan konteks atau wilayah pertarungan menjadi penting dan harus menjadi acuan dalam strategi pemenangan dan penguasaan peta politik. Dalam sebuah wilayah-wilayah pemilihan, seorang kandidat harus lebih cermat dan hati-hati dalam membaca perbedaan karakter sosial budaya masyarakat pemilih.
Terdapat kantong-kantong pemilih yang beragam yang tentu saja perlu didekati dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Di sisi lain, para kandidat yang dipandang gagal untuk memahami dan menghargai nilai-nilai yang berlaku dan dihormati akan kerap mendapat guncangan kepercayaan yang luar biasa yang kemudian menggerus peluang kemenangannya. Sikap keras kepala, kaku dan tidak fleksibel akan menyulitkan upaya-upaya calon kandidat membangun citra positifnya.
Keempat adalah program dan isu strategis. Faktor ini sebenarnya bersifat “rasional”. Pada umumnya hal yang sifatnya rasional tidak segera mendapat perhatian pemilih. Namun seiring dengan perjalanan waktu, program dan isu strategis yang diunggulkan oleh seorang kandidat dapat mencuri perhatian pemilih. Rentang waktu masa kampanye memberikan kesempatan bagi para pemilih untuk lebih menelisik dan melakukan perbandingan.
Seorang kandidat yang mampu mencuri perhatian dengan program-program unggul dan inovatif, memberikan solusi tepat sasaran dan sejalan dengan aspirasi atau kebutuhan masyarakat lebih memiliki peluang besar meraup suara lebih besar dari pesaingnya.Tidak jarang sikap pemilih menjadi berubah karena tergoda dengan program-program yang ditawarkan. Sebagai contoh program-program menarik para calon kandidat ialah Prolita (program lima puluh juta per RT), Produta (Program Dua Ratus Juta per RT), Program Kesehatan Gratis, Wifi Gratis, Beasiswa, dan Bansos bagi kalangan masyarakat miskin.
Selanjutanya, Isu-Isu strategis pun menjadi cukup efektif mempengaruhi para pemilih, seperti isu anti money politik (politik uang), anti politik dinasti, isu kegagalan pemerintahan dalam pembangunan dan isu-isu yang dapat dikemas menjadi negatif campaign (kempanye negatif) dalam pengertiannya yang positif.
Selain keempat faktor-faktor di atas, ada satu faktor lain yang juga tidak dapat diabaikan. Namun, faktor ini lebih bersifat tidak dapat diprediksi atau di luar perkiraan. Faktor ini dapat disebut sebagai blessing in disguise (berkah terselubung) atau dapat diisitilahkan sebagai “Faktor X”. Faktor ini dapat dimengerti bahwa sesuatu tampak seperti kemalangan tapi dapat memiliki manfaat yang tak terduga. Faktor X ini memang tidak banyak ditemui, namun berperan besar dalam memutar arah dukungan politik.
Kemenangan paslon Nomor urut 2 di pilwali 2020 telah nampak di depan mata dengan berbagai hasil survey yang ada, namun tiba-tiba sirna karena adanya “berkah terselubung” dimana kesedihan mendalam dirasakan hampir seluruh masyarakat akibat salah satu calon dari pasangan nomor urut satu wafat akibat terpapar virus covid jelang waktu yang cukup singkat menuju hari H pemilihan. Kejadian ini dianggap sebagai blessing in disguise atau faktor X yang dapat “dikapitalisasi” dalam menarik empati besar masyarakat pemilih.
Oleh:
Taqiyuddin (Kiki)
(Ketua Presidium MD KAHMI Bontang, Praktisi Politik dan Penikmat Kopi)

Tinggalkan Balasan