EXPRESI.co, SANGATTA – Harga beras di wilayah Kutai Timur mulai menunjukkan penurunan setelah sebelumnya sempat melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Kepala Dinas Perdagangan Kutai Timur, Nora, menjelaskan bahwa pihaknya bersama tim dari Badan Pangan Nasional (BPN), Polda, dan Polres telah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah agen dan pedagang beras di lapangan.

“Awalnya semua harga masih di atas HET, yakni Rp15.400 per kilogram. Namun dari hasil sidak terakhir, rata-rata pedagang sudah menurunkan harga di bawah HET yang ditetapkan,” ujar Nora, Sangatta, Rabu (19/11/2025).

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah beberapa waktu lalu para pedagang mendapat teguran karena menjual di atas batas harga yang diperbolehkan.

Meskipun demikian, Nora mengakui bahwa sebagian pedagang menurunkan harga bukan karena keuntungan, melainkan untuk menghabiskan stok lama.

“Ada yang bilang mereka menurunkan harga hanya untuk menghabiskan stok gudang. Kalau nanti stok sudah habis, mereka masih pikir-pikir untuk ambil barang baru karena harga HET ini dinilai cukup memberatkan,” tambahnya.

Menurutnya, kebijakan HET yang berlaku saat ini merupakan ketetapan nasional yang belum sepenuhnya menyesuaikan kondisi daerah. Kutai Timur, yang memiliki wilayah luas dengan tantangan distribusi yang tinggi, dinilai membutuhkan penetapan HET tersendiri di tingkat kabupaten agar lebih relevan dengan kondisi pasar lokal.

Nora berharap, ke depan dapat diterapkan HET kabupaten agar pedagang bisa berjualan dengan tenang dan masyarakat tetap mendapatkan harga yang wajar.

“Kita harapkan ada HET kabupaten sehingga semua pihak merasa aman, baik pedagang maupun konsumen,” tutupnya. (Adv)