EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan bahwa proses pemantauan pascabencana kebakaran di Muara Bengkal terus dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh dampak dan kebutuhan warga terdampak terdata dengan baik.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, menjelaskan bahwa meskipun Tim Reaksi Cepat (TRC) tidak dapat turun langsung pada malam terjadinya kebakaran, koordinasi lapangan telah dilakukan sejak laporan pertama diterima. Menurutnya, waktu kejadian yang berada di luar jam operasional serta jarak tempuh dari ibu kota kabupaten menjadi kendala utama mobilisasi awal.
“BPBD Kutim tetap memantau perkembangan sejak awal. Setiap kecamatan memiliki petugas yang bertanggung jawab melakukan monitoring, sehingga informasi dari lapangan tetap dapat kami akses,” jelas Naim saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/11/2025).
Ia memaparkan bahwa respon cepat pemerintah kecamatan sangat membantu proses awal penanganan bencana. Tidak lama setelah kejadian, posko darurat langsung didirikan di lokasi. Keberadaan posko tersebut menjadi pusat pendataan awal sekaligus titik koordinasi kebutuhan mendesak masyarakat.
“Saat kejadian kami langsung menerima laporan dan melakukan pemantauan. Memang tim TRC belum bisa diberangkatkan malam itu, tetapi petugas wilayah kami sudah bekerja melakukan pengawasan di kecamatan masing-masing,” ungkapnya.
Naim juga mengapresiasi langkah cepat camat dalam menginisiasi pendirian posko darurat. Baginya, langkah ini sangat krusial dalam mempercepat proses penanganan sebelum bantuan logistik dari kabupaten tiba.
“Alhamdulillah, Pak Camat bergerak cepat. Posko darurat itu sangat penting sebagai langkah awal penanganan bencana sembari kami menyiapkan logistik dan rencana tindak lanjut,” tambahnya.
Dengan sistem pembagian personel BPBD yang bertugas memegang satu kecamatan, proses pelaporan bencana menjadi lebih terstruktur. Metode ini memungkinkan BPBD menerima perkembangan kondisi di Muara Bengkal secara real-time, meski terjadi kendala jarak dan waktu.
“Setiap personel kami memang ditunjuk untuk bertanggung jawab atas satu kecamatan. Itu membuat pemantauan bisa berjalan dengan lebih efektif,” pungkasnya. (Adv)


Tinggalkan Balasan