EXPRESI.co, BONTANG – Sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) statis alias tilang elektronik yang hingga saat ini belum berfungsi maksimal terus disorot DPRD Bontang.

Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam ikut menyorot hal itu. Dia mengatakan alat tersebut jika berfungsi dengan baik memiliki manfaat yang besar.

Selain dapat membantu kerja pihak kepolisian dalam memantau aktivitas pelanggaran lalu lintas di jalan raya, ETLE dapat diartikan keselarasan konsep pembangunan smart city yang digalakkan di Bontang.

Bahkan, dia mendorong agar diberikan anggaran khusus untuk pengadaan ETLE di beberapa titik jalan raya di Bontang.

Tentunya setelah mendapatkan pengajuan kebutuhan anggaran dari Polres Bontang yang bekerjasama sama dengan Kominfo Bontang.

“Jika diusulakan Polres pasti akan kita setujui,” kata Andi Faiz kepada media ini, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Namun dikarenakan untuk pengadaan alat tilang elektronik membutuhkan anggaran yang cukup besar, maka pemasangan alat akan terbatas.

Dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, yang pada 2022 ini hanya sebesar Rp 1,2 triliun.

“Polres pasti paham kondisi keuangan daerah kita,” ujarnya.

“Jadi untuk anggaran perubahan ini, saya yakin tak mungkin diusulkan untuk full coverage,” imbuhnya.

Pun ia yakin dengan pengalaman kerja Kapolres Bontang yang baru AKBP Yusep Dwi Prastiya di Polda Kaltim, bisa memberikan gambaran jelas ihwal kebutuhan fasilitas ETLE dengan konkrit.

“Kebetulan Kapolres baru punya pengalaman dibidang itu,” kata politisi muda di partai Golkar itu.

Sementara, saat dikonfirmasi Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi menyatakan di kota lain, saat peluncuran ETLE dari Polri, mendapatkan bantuan alat dengan menggunakan anggaran APBN.

Sehingga dengan mudah alat mahal itu didapatkan. Saat ini, pekerjaan rumahnya ialah bekerjasama dengan Pemkot Bontang dalam mengupayakan pengadaan alat tersebut.

Menurut informasi yang ia terima, Pemprov Kaltim juga tengah berupaya melakukan pengadaan ETLE statis.

“Kamera ETLE gak bisa pakai kamera yang sesuai keinginan kita, tapi sesuai dengan standar di nasional,” kata AKBP Yusep.

Lebih lanjut ia menerangkan, saat ini kebanyakan daerah menggunakan ETLE mobile. Yang mengandalkan tangakapan dari kamera saat patroli.

Namun alat itu miliki kelemahan, yang pada prakteknya tetap sistem input ke sistem secara manual.

“Kalau mobile pada dasarnya punya sistem kerja yang sama saja seperti manual,” kata dia. (SL/FN)