EXPRESI.co, KUTAI TIMUR – Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berlomba-lomba membuat aplikasi digital sebagai bagian dari inovasi dan program aksi perubahan.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronni Bonar, menyoroti bahwa sebagian besar aplikasi yang diluncurkan hanya aktif pada masa program berlangsung. Setelah itu, banyak di antaranya berhenti diperbarui dan tidak lagi dimanfaatkan oleh pengguna.
“Banyak aplikasi yang sifatnya hanya seremonial. Usai program, aplikasi tersebut tidak lagi digunakan, bahkan ada yang hanya diunduh sekali tanpa pemanfaatan lanjutan,” ungkapnya dalam Rakor pelaksanaan website satu pintu di Hotel Royal Viktoria, Kamis (27/11/2025).
Ronni menjelaskan bahwa sebagian besar fungsi dalam aplikasi tersebut sebenarnya tidak memerlukan platform khusus. Cukup dengan menambahkan fitur baru pada website resmi OPD, tujuan yang sama dapat tercapai dengan lebih efektif.
“Website jauh lebih mudah diakses, tidak perlu diinstal, dan dapat dibuka oleh masyarakat kapan saja melalui browser tanpa memenuhi ruang penyimpanan perangkat mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, semakin banyaknya aplikasi yang dibuat justru membuat masyarakat bingung karena harus mencari informasi di banyak platform. Hal ini bertolak belakang dengan konsep digitalisasi pemerintahan yang seharusnya menyederhanakan alur layanan publik.
Ronni menekankan perlunya pendekatan konsolidatif. Menurutnya, OPD seharusnya fokus memperkuat dan mengintegrasikan layanan melalui website, bukan memperbanyak aplikasi baru.
“Cukup satu platform yang ditata dengan baik dan memuat fitur penting. Dengan begitu, sistem layanan akan lebih efisien dan mudah diakses masyarakat,” pungkasnya. (Adv)


Tinggalkan Balasan