EXPRESI.co, BONTANG – Twitter mengungkap sejumlah kebijakan dan langkah untuk mengatasi upaya manipulasi yang terjadi pada platformnya. Manipulasi platform sendiri merupakan penggunaan layanan Twitter yang bersifat manipulatif dan dapat mengganggu pengalaman orang di Twitter.

“Sering kali kalau merujuk pada manipulasi platform, kata bot selalu muncul. Namun ada perbedaan antara manipulasi platform berbahaya dan akun bot yang memang dirancang untuk mengunggah otomatis,” tutur Global Head Site Integrity Twitter, Yoel Roth dalam media briefing yang dilakukan secara virtual.

Oleh sebab itu, Yoel menuturkan, Twitter menggunakan pendekatan holistik sebelum menentukan sebuah akun atau tindakan masuk dalam kategori upaya manipulasi platform.

Salah satunya adalah perilaku untuk mengunggah konten spam. Biasanya, tweet yang dianggap spam berisi konten mengganggu, berbahaya atau melakukan duplikasi tagar, tautan, serta beberapa konten lainnya.

Selain itu, Twitter juga melarang pengguna akun palsu. Dalam hal ini, akun palsu yang dimaksud adalah akun tidak autentik dalam jumlah banyak dan profilnya menggunakan informasi yang dicuri dari akun lain untuk memperdaya pengguna lainnya.

Yoel juga menuturkan, Twitter melarang tindakan ampilifikasi buatan yaitu menggunakan otomatisasi/spam untuk meningkatkan jumlah like, retweet, atau follower suatu akun.

“Twitter berupaya menghentikan tindakan seperti ini, karena kami menginginkan interaksi yang otentik,” ujar Yoel melanjutkan. Lalu, hal yang juga menjadi perhatian Twitter adalan aksi manipulasi terkoordinasi, seperti beberapa akun yang dioperasikan satu orang untuk mengganggu percakapan.

Terakhir, hal yang juga dilarang adalah melakukan penyalahgunaan produk Twitter. Beberapa tindakan ini termasuk menggunakan fitur di Twitter, seperti pelaporan untuk mengganggu percakapan atau melecahkan individu tertentu.