EXPRESI co, BONTANG — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bontang telah mengkaji dampak desain surat suara legislatif pada pemilu 2024 lalu.

Dalam kajian KPU, disimpulkan desain surat suara legislatif cenderung memiliki penampilan yang sulit dipahami.

Persoalan tersebut diyakini menjadi sebab utama tingginya angka surat suara yang tidak sah.

“Masalahnya bukan pada pemilihnya, tapi terletak pada instrumen (surat suara) yang disediakan,” tulis KPU dalam keterangan kajiannya, Kamis, 23 Oktober 2025.

Surat suara yang sulit dipahami mengakibatkan 29.842 suara di Bontang untuk pemilihan legislatif terbuang karena tidak sah.

Tidak hanya itu, desain surat suara juga berimbas pada beban kerja KPPS yang besar. Bahkan keabsahan surat suara yang besar dan padat sulit diverifikasi.

Ditambah lagi proses verifikasi memakan waktu lama yang membuat kerentanan terjadinya kesalahan.

“Lima jenis kertas ukuran besar membuat rantai logistik menjadi mahal,” tulis dalam kajian KPU.

Komisioner Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu, Acis Maidy Muspa menyampaikan simulasi surat suara pra pemilu yang dilakukan pihak partai bagi masyarakat dinilai kurang efektif.

Menurutnya, ada perbedaan kertas surat suara simulasi dengan pemilu berlangsung. Hal ini membuat masyarakat bingung sendiri saat melakukan pencoblosan di Tempat Pemilihan Suara (TPS)

“Ada simulasi yang seolah-olah menggunakan pakai kertas A4, jadi para pemilih juga kaget kan,” ujarnya

Acis—sapaannya—juga menyoroti visi dan misi calon legislatif yang terlampir memakan ruang yang berimbas kertas surat suara menjadi lebih besar

Dia menyarankan agar lampiran visi dan misi calon legislatif ditampilkan di luar TPS alih-alih di dalam kertas surat suara yang rentan sulit dipahami masyarakat umum.

“Agar kertas surat suara menjadi lebih simpel,” imbuhnya. (Labib)