EXPRESI.co, KUTIM – Aktivitas truk perusahaan yang mengangkut material dan melintas di jalan umum Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menuai keresahan warga.

‎Lalu lintas kendaraan bermuatan berat di kawasan permukiman dinilai membahayakan keselamatan masyarakat yang beraktivitas sehari-hari.

‎Kekhawatiran warga menguat menyusul terjadinya sejumlah insiden kecelakaan dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya menimpa seorang perempuan bernama Ervyana, warga Gang Pinrang, Desa Sekerat, yang tertabrak truk di simpang tiga Kantor Desa Sekerat saat hendak menuju kantor desa.

‎Seorang warga Desa Sekerat yang enggan disebutkan namanya dan merupakan saudara korban mengungkapkan, insiden tersebut menyebabkan korban mengalami luka cukup serius, terutama di bagian kepala, sehingga harus menjalani perawatan medis.

‎“Adik saya tertabrak truk di simpang kantor desa, lukanya cukup parah di bagian kepala dan sampai sekarang masih dalam proses pemulihan,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp.

‎Tak hanya satu kejadian, ia menyebut kecelakaan serupa kembali terjadi di wilayah Sekurau, Desa Sekerat. Menurutnya, rentetan peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa jalan desa tidak layak dilalui kendaraan berat milik perusahaan.

‎“Ada lagi insiden, kendaraan bermotor menabrak truk di Sekurau. Ini bukti kalau jalan kampung memang tidak aman untuk dilewati truk-truk besar,” katanya.

‎Ia menjelaskan, warga telah berulang kali meminta agar truk pengangkut material tidak melintas di jalan kampung dan dialihkan ke jalur hauling yang telah ditetapkan. Namun, permintaan tersebut belum sepenuhnya dipatuhi.

‎Menurutnya, pengalihan truk ke jalan umum terjadi karena jalur hauling sementara ditutup oleh pemilik lahan. Meski demikian, kebijakan tersebut dinilai dilakukan tanpa koordinasi dengan warga maupun pemerintah desa.

‎“Jalan hauling ditutup pemilik lahan, lalu truk-truk langsung dialihkan ke jalan umum tanpa konfirmasi ke warga. Seolah-olah jalan kampung ini bebas dilewati begitu saja,” ungkapnya dengan nada kecewa.

‎Sebagai bentuk upaya melindungi keselamatan masyarakat, warga sempat melakukan penahanan terhadap truk-truk bermuatan material yang melintas di jalan desa. Namun langkah tersebut justru tidak mendapat dukungan dari pemerintah desa.

‎“Kami menahan truk demi keselamatan warga. Yang kami tahan hanya truk perusahaan, bukan kendaraan masyarakat, tapi justru tidak ada dukungan dari pemerintah desa,” tegasnya.

‎Lebih jauh, dia menyayangkan sikap pemerintah desa yang dinilainya belum berpihak pada keselamatan warga. Ia menilai, kebijakan yang diambil lebih mengutamakan kelancaran aktivitas perusahaan.

‎“Mereka tidak memikirkan bagaimana keselamatan keluarga kami, yang dipikirkan hanya bagaimana bisnis tetap berjalan,” ujarnya.

‎Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah desa sempat merencanakan mediasi antara warga, perusahaan, dan pihak terkait. Namun hingga kini, mediasi yang dijadwalkan sehari sebelumnya belum juga terealisasi.

‎Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperkeruh situasi di lapangan. Warga khawatir, jika aktivitas truk tetap berlangsung tanpa solusi yang jelas, potensi konflik antara masyarakat dan sopir truk tidak dapat dihindari.

‎“Sampai hari ini belum ada kejelasan soal mediasi lanjutan. Kalau kondisi ini dibiarkan, saya yakin warga dan sopir truk bisa bentrok di lapangan,” pungkasnya.

‎Warga Desa Sekerat berharap pemerintah desa dan pihak perusahaan segera mengambil langkah tegas dan solutif dengan mengutamakan keselamatan masyarakat, serta memastikan jalur hauling difungsikan sesuai peruntukannya.(Yuristio)