EXPRESI.co, KUTIM – Keterbatasan akses pendidikan masih menjadi kenyataan yang dihadapi warga Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur.
Hingga kini, desa tersebut belum memiliki sekolah menengah atas (SMA), sehingga para pelajar harus menempuh perjalanan belasan hingga puluhan kilometer ke Kota Sangatta untuk melanjutkan pendidikan.
Jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat. Dari pusat Desa Sangkima ke Sangatta sekitar 13 kilometer, sementara pelajar dari wilayah pesisir bahkan harus menempuh hingga 20 kilometer. Kondisi itu semakin berat karena infrastruktur jalan yang belum tersambung secara optimal.
“Kalau dari Sangkima ke Sangatta itu sekitar 13 kilometer. Ada juga yang sampai 20 kilometer dari wilayah pesisir,” kata Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu 11 Februari 2026.
Secara jarak, akses tersebut sebenarnya masih terbilang terjangkau jika didukung jalan yang layak. Namun, harapan masyarakat terhadap pembangunan Ring Road sebagai jalur utama penghubung hingga kini belum terealisasi sepenuhnya.
Alwi menjelaskan, pembangunan Ring Road baru terbuka sekitar 9 kilometer dan belum dilanjutkan sejak pertama kali dikerjakan pada masa awal berdirinya Kabupaten Kutai Timur.
“Sudah berapa puluh tahun sejak Kutai Timur berdiri, tapi pembukaan Ring Road itu baru sekitar 9 kilometer dan belum dilanjutkan sampai sekarang,” terangnya.
Kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) kerap disebut sebagai kendala utama belum dilanjutkannya pembangunan. Meski demikian, menurut Alwi, peluang kerja sama sebenarnya tetap terbuka melalui skema perjanjian kerja sama (PKS) selama tidak menyentuh zona inti konservasi.
“Kami maklum kalau itu kawasan TNK. Tapi masa sudah puluhan tahun tidak ada solusi? Balai TNK sendiri menyampaikan mereka tidak anti pembangunan, selama ada PKS dan tidak masuk zona inti,” katanya.
Belum tersambungnya akses jalan berdampak langsung pada sektor pendidikan. Sejumlah siswa dari keluarga kurang mampu terpaksa menyewa kamar kos di Sangatta agar dapat bersekolah. Kondisi ini tidak jarang berujung pada putus sekolah karena keterbatasan biaya.
“Banyak yang kurang mampu akhirnya berhenti sekolah karena harus kos di Sangatta. Tidak semua orang tua sanggup membiayai,” ujarnya.
Selain persoalan ekonomi, orang tua juga menghadapi tantangan dalam mengawasi anak yang tinggal jauh dari rumah.
“Kalau anak kos, lepas dari pantauan orang tua. Pergaulan di kota kadang membuat mereka terpengaruh, bahkan ada yang akhirnya gagal lulus,” tuturnya.
Pemerintah kecamatan bersama pemerintah daerah disebut telah membahas kemungkinan kerja sama pengembangan infrastruktur di kawasan tersebut.
Masyarakat berharap pembangunan jalan dapat segera direalisasikan agar akses terhadap layanan dasar, terutama pendidikan, tidak lagi menjadi hambatan.
“Kalau jalannya bagus, 13 kilometer itu bukan jarak yang sulit. Pendidikan anak-anak kami pasti jauh lebih mudah,” pungkasnya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan