EXPRESI.co, KUTIM — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menempati posisi kedua dengan persentase pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim).
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menegaskan upaya penyerapan tenaga kerja tetap prioritas, termasuk melalui program penyerapan 50.000 tenaga kerja lokal dalam masa kepemimpinannya.
“Ya, itulah yang sedang kita hadapi. Kalau tahun ini belum berhasil, kita terus lanjutkan sampai tercapai,” kata Ardiansyah ditemui di Sangatta, 5 November 2025.
Ia menilai capaian program 50.000 pekerja sebenarnya sudah terlihat jika memasukkan tenaga kerja informal.
“Tenaga kerja itu tidak hanya formal. UMKM saja kadang mempekerjakan tiga sampai empat orang, dan itu sudah tercatat,” ujarnya.
Selain penciptaan lapangan kerja, Pemkab juga memperluas perlindungan sosial bagi pekerja rentan melalui BPJS Ketenagakerjaan.
“Target kita 160 ribu jiwa. Sampai September kemarin sudah 96 ribu, dan semoga tahun depan bisa mencapai 150 ribu sampai 160 ribu peserta,” tambahnya.
Menurut Ardiansyah, pekerja formal sudah otomatis terdaftar BPJS, sehingga pemerintah fokus memfasilitasi pekerja rentan seperti UMKM dan petani dengan kondisi usaha terbatas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kutim naik dari 5,76 persen pada Agustus 2024 menjadi 6,20 persen pada Agustus 2025.
Statistisi Ahli Pertama BPS Kutim, Dyah Permata Ardyani, menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, termasuk efisiensi anggaran dan berhentinya operasi salah satu perusahaan tambang di Rantau Pulung sejak pertengahan 2025.
“Efisiensi anggaran itu cukup berpengaruh. Selain itu, ada perusahaan tambang di Rantau Pulung yang sejak Juni tidak beroperasi, itu juga berdampak besar,” jelasnya.
Dyah menambahkan meski sektor pertanian dan jasa mengalami peningkatan jumlah pekerja, penurunan di sektor manufaktur yang meliputi pertambangan, konstruksi, dan industri pengolahan lebih dominan.
Berdasarkan Sakernas Agustus 2025, Kutai Timur memiliki 362.460 penduduk usia kerja, dengan 225.831 orang bekerja dan 14.000 tercatat menganggur.
“Angkatan kerja meningkat dari 236 ribu menjadi 240 ribu orang. Sebagian masuk angkatan kerja, sebagian lagi bukan angkatan kerja,” katanya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan