EXPRESI.co, BONTANG — Rumah Kreasi Milenial (RKM) yang berada di Kota Bontang, sebenarnya diresmikan di era kepemimpinan Basri Rase dan Najirah.

Di pemerintahan Basri Rase, RKM rencana bakal dikelola oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispopar-ekraf) Bontang melalui komunitas Bontang Creative Collaboration (BCC).

Koordinator utama BCC, Fadhil Kaharuddin Jafar mengaku hingga kini pihaknya belum dipanggil pemerintah yang baru untuk membahas rencana RKM tersebut bagaimana ke depannya.

Pernyataan Fadhil tentu saja kembali menimbulkan tanda tanya: siap yang akan menjalankan fungsi gedung yang menghabiskan anggaran rakyat Rp4,9 miliar itu?

Kini, Dispopar-ekraf Bontang juga mengakui belum mau melakukan penandatanganan serah terima aset gedung RKM. Karena masih butuh dibenahi.

Namun, di balik itu, situasi gedung yang belum jelas kebermanfaatannya itu menyisakan lagi sebuah pertanyaan penting: bagaimana sebetulnya konsep RKM ini?

Memfasilitasi Komunitas Kreatif Lokal

Fadhli KJ menyampaikan sebetulnya RKM itu merupakan program yang memfasilitasi pengembangan pelaku dan komunitas ekonomi kreatif lokal Bontang di bawah naungan Dispoar-ekraf.

Sedangkan, posisi BCC sendiri merupakan pengelola yang bertanggungjawab menghimpun dan membina pelaku dan komunitas di setiap sub sektor ekonomi kreatif.

Di setiap sub sektor juga telah ditunjuk koordinator masing-masing. Ada sekitar 17 sub sektor. Antara lain Pengembang Permainan, Kerajinan, Desain Interior, Musik, seni rupa, desain produk, dan feshyen.

Selanjutnya ada juga kuliner, film/vidio animasi, fotografi, desain komunikai visual, televisi dan radio, arsitektur, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi.

“BCC itu induknya dari sub sektor. konsepnya menjadi agensi dan distribusi,” ungkap Fadhil kj saat dihubungi, Sabtu, 1 November 2025.

BCC menjadi agensi yang melakukan pembinaan ekonomi kreatif sekaligus distributor usulan program ataupun lainnya dari pelaku ataupun komunitas kepada Pemkot.

“Semua pengurusnya itu merupakan pekerja di bidang ekonomi kreatif,” imbunya.

Rencana Awal Gedung RKM

Fadli mengungkapkan ternyata rencana awal RKM ini bertempat di Gedung belakang stadion Bessai Berinta, yang kini dijadikan sebagai Gedung MTQ Bontang.

“Karena kita menghindari pebangunan gedung baru, supaya lebih murah anggarannya,” terangnya.

Alasan lainnya, kawasan itu dinilai punya lokasi strategis dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Sebab menjadi pusat keramaian masyarakat Bontang, terlebih generasi mudanya.

Tidak Tau

Fadhil KJ mengaku tidak mengetahui mengapa Wali Kota Bontang waktu itu, Basri Rase, menghendaki melakukan pembangunan gedung baru untuk RKM yang kini berlokasi di kawasan HOP 1, Kelurahan Satimpo.

Lebih jauh, Fadhil KJ mengaku sebetulnya terjadi perbedaan desain yang ia usulkan ke Pemkot kala itu. Artinya, ada bagian design gedung yang tidak dibangun di area RKM yang sekarang.

“Tidak lengkap saja desainnya, yang sekarang ada ini persis seperti yang kami desain. Tapi tidak semuanya karena di sebelahnya itu ada lagi itu, seingat saya ada lagi gedung yang lebih luas dari gedung utama,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, gedung RKM ini disorot dewan dalam inspeksi mendadak (sidak) yang digelar pada 27 Oktober. Mereka geleng-geleng kepala melihat kondisi gedung tersebut. Sebab dijadikan gudang material pembangunan mini soccer. (Labib)