EXPRESI.co, BONTANG — SDN 016 Tihi-Tihi di Kota Bontang, terbangun dengan menyimpan sejumlah harapan. Sebuah kampung kecil di atas laut.
Siswa di sana bercerita tentang cita-citanya yang tidak muluk-muluk. Layaknya siswa pada umumnya, yang bersekolah di perkotaan Bontang.
Cita-cita mereka beragam. Ada yang mau jadi dokter, guru, Polisi, TNI, bahkan konten kreator. Ada juga yang nyahut ingin jadi security di sebuah perusahaan.
“Kakak, saya mau jadi Security perusahaan. Kayak bapakku,” ucap Fahmi, salah seorang siswa yang kini duduk di bangku kelas 3, saat redaksi Expresi berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.
“Kalau saya mau jadi sopir kapal kak, supaya antar ibuku mudik ke kampung,” kata cholid, siswa kelas 2 yang bermigrasi dari Mamuju.
Di balik secercah harapan anak-anak nelayan, ada guru yang berdedikasi memupuk harapan siswa SDN 016 Tihi-Tihi agar tetap tumbuh.
Mereka setiap hari rela ulang-pergi menyebrang sekitar 30 menit antar daratan Bontang dan kampung Tihi-Tihi untuk mengajar.
Kepala sekolah SDN 016 Tihi-Tihi, Tri Ayuningsih Pudjiastuti menuturkan setiap pagi dirinya harus pergi ke pesisir laut Bontang. Menaiki kapal ketinting.
Ada 9 guru dari daratan Bontang yang berkumpul pada dua titik pesisir; Tanjung Laut dan Bontang Lestari.
“Karena ada sebagian tinggalnya dekat Tanjung Laut, sebagian lainnya dekat Bontang Lestari, jadi titik lokasi naik kapalnya bergiliran,” ungkap Ayu—sapaan Tri Ayuningsih Pudjiastuti—saat ditemui Expresi di kantornya, Selasa, 4 November lalu.
Mereka berkumpul di pesisir laut jam 7 pagi untuk menyebrangi perairan Bontang menuju Kampung Tihi-Tihi.
Ayu mengaku, tidak jarang kapal ketinting kecil yang digunakan dalam perjalanannya itu menghadapi berbagai rintangan: hujan lebat hingga ombak yang cukup tinggi.
Seringkali cuaca yang mulanya tampk cerah di daratan Bontang justru berubah menjadi gelap, hujan bercampur angin saat di tengah-tengah lautan.
Kapal ketintitng yang menampung 9 guru dan satu sopir kapal itu menunggu laut kembali normal.
Ayu dan para guru lainnya hanya bisa berdizikir meminta pertolongan kepada Sang Maha Besar yang diyakininya masing-masing.
“Biasanya ada kapal yang lebih besar dan kasih kami tumpangn untuk bisa tepat waktu ke sekolah,” ungapnya penuh semangat.
Biasanya, cuaca buruk memaksa mereka menunggu di pelabuhan sampai cuaca kembali normal.
Bila cuaca tak memungkinkan kapal ketinting menyebrangi lautan, maka “Kami melakukan pembelajaran Daring,” kata Ayu.
Tidak hanya faktor alam, seringkali kapal ketinting itu juga rusak di tengah perjalanan. Sebab sampah laut yang sembarangan tersangkut di baling-baling. Kapal terhenti otomatis dan ketinting harus diperbaiki.
Bahkan tidak jarang dengan berbagai rintangan itu, membuat para guru sampai ke sekolah hingga siang hari.
Siswa SDN 016 Tihi-Tihi yang dipupuk harapannya itu sendiri hanya berjumlah 31 siswa dengan latar belakang keluarga para nelayan.
Ayu mengaku anak didiknya tidak terlalu kuat dalam perihal kognitif. “Tapi Fisik mereka kuat, di situ lah kami fokus tumbuh kembangkan,” ungkapnya.
Upaya Ayu dan rekan guru itu pernah membuahkan hasil. Riska Nurul Fatimah, pelajar SDN 016 Tihi-Tihi, berhasil meraih juara dua dalam seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang senam tingkat kota yang berlangsung di Dispoparekraf Bontang.
Saat masuk ke jenjang Provinsi, putri generasi Tih-Tihi itu menempati posisi juara harapan satu.
Sekalipun dengan keadaan geografis yang menantang, tidak menyurutkan semangat Ayu bersama 8 rekan guru lain untuk menumbuh kembangkan anak generasi Tihi-Tihi mencapai cita-citanya.
“Kalau bukan kita siapa lagi, kasihan mereka (generasi Tih-Tihi) kalau dibiarkan,” imbuhnya. (Labib)

Tinggalkan Balasan