EXPRESI.co, KUTIM — Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Kutai Timur (Kutim) diklaim menurun pada 2026. Tapi belum mencerminkan kondisi riil di lapangan.

‎Berdasarkan data terakhir, jumlah ATS di Kutim yang mencapai 13 ribu pada 2026, kini turun sekitar 10 ribu. Namun, angka ini masih diragukan. Sebab datanya belum beres.

‎Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan perbaikan sistem pendataan terus dilakukan, untuk memastikan angka ATS lebih akurat dan bisa menjadi dasar kebijakan yang tepat.

‎“Sebenarnya sudah berkurang. Itu hanya pencatatannya saja yang masih belum maksimal. Jadi data yang kemarin dari sekian puluh sekian belas ribu sudah turun menjadi 10 ribu,” ucapnya, Rabu 6 Mei 2026.

‎Di sisi lain, pemerintah menilai akses pendidikan di Kutim sebenarnya sudah cukup merata hingga ke wilayah desa.

Namun, masih terdapat berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah atau tidak terdata dengan baik.

‎“Sepertinya kita sekolah sudah ada di mana-mana. Yang jadi pertanyaan, mereka tidak sekolah itu kenapa? Kemudian ada yang memang sekolah tetapi mereka tidak lagi di tempatnya,” katanya.

‎Mobilitas penduduk menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi tingginya angka ATS. Sebagian besar warga Kutim merupakan perantau yang kerap berpindah tempat atau kembali ke daerah asal, sehingga anak-anak mereka masih tercatat di Kutim meski sudah tidak tinggal di wilayah tersebut.

‎Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah daerah terus melakukan pembaruan data secara berkala dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan hingga perangkat di tingkat desa.

‎“Data masih terus akan diperbaharui oleh Dinas Pendidikan, dibantu juga oleh beberapa lembaga dinas lainnya,” tandasnya.(Yuristio)