EXPRESI.Co, KUTIM — Kepadatan arus lalu lintas di kawasan Sangatta Lama Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diprediksi meningkat selama Ramadan 1447 Hijriah.
Aktivitas pasar takjil dan lonjakan mobilitas warga menjelang berbuka puasa membuat sejumlah ruas jalan di sekitar Gedung Buana Mekar menjadi titik rawan kemacetan.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Perhubungan Kabupaten Kutai Timur bersama Sat Lantas Polres Kutim dan manajemen PT Kaltim Prima Coal menyepakati rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan rute bus angkutan karyawan.
Langkah ini difokuskan pada pembatasan kendaraan besar melintasi jalur utama yang terdampak pasar tumpah. Selama ini, keberadaan pedagang kaki lima yang memanfaatkan sebagian badan jalan menyebabkan ruang gerak kendaraan besar menjadi terbatas, terutama pada sore hari.
Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, mengatakan pihaknya telah menentukan titik putar baru bagi armada bus.
“Kami telah menyepakati titik putar baru bagi bus angkutan karyawan. Nantinya, kendaraan besar ini akan dialihkan ke jalur alternatif dan menggunakan area depan Gedung Buana Mekar sebagai simpul kendali untuk berputar balik,” ujar Zulkarnain, Rabu 18 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pengaturan ini berlaku setiap hari selama Ramadan, mulai pukul 16.30 Wita hingga 18.15 Wita, atau pada jam sibuk menjelang waktu berbuka puasa.
“Pada jam-jam krusial menjelang berbuka tersebut, personel gabungan akan disiagakan untuk mengatur sirkulasi keluar-masuk bus agar tidak terjadi penumpukan, menghalau kendaraan yang parkir liar di bahu jalan sekitar area pasar dan memastikan akses warga lokal tetap terbuka di tengah keramaian pedagang,” tegasnya.
Untuk mendukung penerapan rekayasa lalu lintas tersebut, Dishub Kutim juga memasang spanduk imbauan dan penunjuk arah di sejumlah titik strategis agar pengguna jalan dapat menyesuaikan rute lebih awal.
“Langkah ini diambil agar para sopir bus maupun pengendara pribadi dapat menyesuaikan rute perjalanannya lebih awal,” urainya.
Pola pengalihan ini diharapkan mampu menjaga kelancaran mobilitas industri sekaligus memberi ruang aman bagi aktivitas ekonomi warga selama Ramadan.
“Di satu sisi, mobilitas industri tetap berjalan lancar, dan di sisi lain, denyut ekonomi rakyat melalui pasar takjil tetap bisa tumbuh tanpa memicu kemacetan total di jantung Sangatta Lama,” tutup Zul.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan