Expresi.co, BONTANG — Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang lakukan asesmen terhadap tiga pelajar positif narkoba.
Temuan ini merupakan hasil tes urine oleh Satuan Reserse Narkoba (Resnarkoba) Polres Bontang berkerja sama sejumlah SMA di Kota Taman pada Oktober lalu.
Diinformasikan, kasus narkoba di kalangan pelajar Bontang tahun ini mengalami peningkatan ketimbang tahun sebelumnya: 1 kasus.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani,
menegaskan ketiga pelajar hanya berstatus sebagai pemakai atau korban penyalahgunaan,
“Mereka bukan menjadi bagian dari pengedar atau jaringan bandar Narkoba,” terang Lulyana, Rabu, 27 November 2025.
Menurutnya, peningkatan kasus narkoba di kalangan pelajar menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait untuk memperhatikan kembali pergaulan bebas di lingkungan pelajar.
Pemeriksaan BNNK Bontang
Luly, sapaannya, menerangkan ketiga pelajar Bontang telah diperiksa lebih lanjut melalui aseen tim Rehabilitasi BNNK Bontang.
Asesmen ini akan menentukan kategori tingkat pemakaian narkotika pelajar. Melihat tingkat ketergantungan, kondisi psikologis, hingga dampaknya pada fungsi otak pelajar.
Tingkat pemakaian yang ringan akan dilakukan rehabilitasi rawat jalan. Sementara tingkat sedang hingga berat akan dilakukan rehabilitasi rawat inap.
“Nanti baru diputuskan melakukan rehabilitasi rawat inap atau rawat jalan,” ungkapnya.
Rehabilitasi Pelajar
Luly menjelaskan dua pelajar pengguna narkotika menunjukkan tergolong sebagai pemakai dalam kategori sedang hingga berat.
Kategori ini mengharuskan dua pelajar Bontang itu wajib menjalani perawatan rehabilitasi intensif selama 2–3 bulan rawat inap Pusat Layanan Bareta Tanah Merah Samarinda.
“Biasanya, kategori ini berisiko terjadi gangguan psikis dan biologis. Bahkan fungsi otak juga bisa terganggu,” ucapnya.
Hasil pemeriksaan untuk satu pelajar lainnya masih dikategorikan sebagai pemakai yang ringan.
Kategori ini membuat pelajar Bontang itu masih tetap bisa sekolah dengan syarat terus melakukan rehabilitasi rawat jalan di Bontang.
“Tetap diizinkan sekolah dengan pola belajar yang diubah, misalnya dengan homeschooling,” tambahnya. (Labib)

Tinggalkan Balasan