EXPRESI.co, BONTANG – Wacana pembukaan sekolah paket di wilayah pesisir Bontang seperti Tihi-Tihi, Malahing, dan Gusung kembali mencuat. Usulan ini disampaikan oleh Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto, sebagai solusi atas tingginya angka putus sekolah di daerah pesisir akibat akses pendidikan yang terbatas.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang belum bisa mengabulkan permintaan tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud, Saparuddin, mengatakan jumlah lulusan SD di wilayah pesisir saat ini masih sangat minim dan belum mencukupi untuk membuka sekolah paket secara efektif.
“Sebagian dari mereka sudah masuk ke sekolah formal, dan sisanya pun jumlahnya sangat sedikit. Kalau dipaksakan, tidak efektif secara pembelajaran dan anggaran,” ujarnya, Kamis (29/5/2025).
Berdasarkan data Disdikbud, jumlah lulusan SD di tiga wilayah pesisir tahun ini adalah:
– SDN 016 Tihi-Tihi: 7 orang
– SDN 015 Selangan: 3 orang
– SDN 011 Gusung: 11 orang
Dengan total hanya 21 siswa, Disdikbud menilai opsi terbaik saat ini adalah mendorong siswa yang tidak bisa melanjutkan ke sekolah formal untuk mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di kota.
Pendidikan ini dinilai lebih fleksibel secara waktu dan bisa disesuaikan dengan kondisi masyarakat pesisir.
“SPMB tahun ini juga masih bisa menerima lulusan tahun sebelumnya, jadi selama anaknya masih mau sekolah, tetap ada jalannya,” tambah Saparuddin.
Sebelumnya, Heri Keswanto menyoroti realita pahit di wilayah pesisir. Banyak remaja yang setelah lulus SD memilih jalan hidup yang berbeda karena tak bisa mengakses jenjang pendidikan lebih tinggi.
“Anak perempuan lebih memilih menikah muda, sedangkan yang laki-laki ikut jadi nelayan. Ini harus jadi perhatian serius,” tegas Heri. (*/Fn)

Tinggalkan Balasan