EXPRESI.co, KUTIM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) APT Pranoto di Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berjalan optimal.
Tercatat sudah berjalan selama kurang lebih empat bulan tanpa adanya kasus keracunan makanan maupun reaksi alergi berat pada peserta didik.
Program yang menyasar siswa dari jenjang SD hingga SMA ini terus dievaluasi secara berkala, khususnya terkait keamanan pangan, kandungan gizi, hingga kenyamanan penerima manfaat di sekolah.
Kepala SPPG APT Pranoto, Dinand Perdana, menyebut pendataan alergi makanan menjadi salah satu fokus utama sejak awal pelaksanaan program guna meminimalkan risiko kesehatan.
“Sejak awal sebelum distribusi, kami sudah melakukan pendataan. Untuk siswa SD hingga SMP, orang tua mengisi formulir melalui Google Form terkait makanan yang tidak bisa dikonsumsi anaknya,” ujar Dinand, saat diwawancarai melalui telepon, Senin 29 Desember 2025.
Pendekatan berbeda diterapkan bagi siswa SMA. Tim SPPG turun langsung ke sekolah menggali informasi secara lisan dari para siswa sebelum menu disajikan.
“Kalau SMA, kami bertanya langsung ke anak-anaknya karena mereka sudah mampu menyampaikan sendiri makanan apa yang tidak bisa dikonsumsi sebelum menu disajikan,” katanya.
Hasil pemantauan selama empat bulan menunjukkan program MBG berjalan aman. Dinand memastikan tidak ada laporan keracunan maupun alergi berat selama program berlangsung.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada kejadian keracunan atau alergi serius. Namun, data alergi paling banyak mengarah ke udang atau seafood,” jelasnya.
Temuan tersebut menjadi dasar pengelola dalam menentukan menu, mengingat proses memasak dilakukan secara massal dalam satu wadah.
“Masakan kami dimasak dalam satu panci. Kalau ada bahan udang, itu berisiko bagi siswa yang alergi dan bisa menimbulkan kejadian luar biasa,” tegas Dinand.
Ia mencontohkan, pada salah satu sekolah tingkat SMA, jumlah siswa dengan alergi udang mencapai belasan orang sehingga menu berbahan seafood belum dapat diakomodasi.
“Di SMA 1 Sangatta Selatan saja ada sekitar 14 siswa yang alergi udang. Itu tentu menjadi pertimbangan utama kami,” ungkapnya.
Selain aspek kesehatan, evaluasi juga menyasar soal cita rasa. Sejumlah sekolah sempat memberikan masukan terkait rasa masakan yang dinilai kurang gurih.
“Ada sekolah yang memberi masukan soal rasa masakan dan meminta tambahan garam. Itu kami terima sebagai bahan perbaikan,” ujarnya.
Meski demikian, Dinand menegaskan pengelola MBG terikat pada aturan teknis yang melarang penggunaan penyedap rasa buatan.
“Kami tidak diperbolehkan menggunakan micin, masako, atau bumbu racik karena mengandung penyedap. Itu sudah menjadi ketentuan program,” jelasnya.
Ia menambahkan, menu MBG difokuskan pada makanan tradisional yang sehat dan bergizi, tanpa melibatkan makanan cepat saji maupun minuman bersoda.
“Makanan yang kami sajikan seperti nasi goreng, nasi uduk, atau nasi kuning. Tidak ada hamburger, soda, atau junk food,” pungkasnya.(Yuristio)

Tinggalkan Balasan