EXPRESI.co, KUTIM — Warga Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, terpaksa main gelap-gelapan saat malam.

Mereka beraktivitas tanpa penerangan setelah Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal di wilayah tersebut tidak lagi berfungsi akibat tersambar petir sejak Tanggal 5 Januari 2026. ‎

‎Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama saat malam hari. Hingga saat ini masyarakat Pulai Miang hanya memanfaatkan mesin Genset yang terbatas.

‎Sebagai desa wisata, padamnya listrik membuat aktivitas warga dan pelayanan dasar terganggu. Minimnya penerangan turut memengaruhi kegiatan usaha kecil serta kenyamanan masyarakat yang selama ini bergantung penuh pada PLTS komunal.

‎Anggota DPRD Kutim Daerah Pemilihan (Dapil) 5, Sayyid Umar, mengakui persoalan tersebut menjadi perhatian serius pihaknya. Selain karena menyangkut kebutuhan dasar warga, Pulau Miang juga merupakan wilayah dapilnya.

‎“Pulau Miang itu kebetulan kampung saya. Sekarang kami masih mencari pendanaan, apakah genset bisa kita hidupkan kembali. Kalau tenaga surya sebenarnya sudah ada,” ujar Sayyid Umar.

‎PLTS komunal Pulau Miang diketahui dibangun sejak 2018 dan menjadi satu-satunya sumber listrik utama bagi warga. Fasilitas tersebut melayani sekitar 112 kepala keluarga dengan kapasitas daya mencapai 50 kilo Watt peak (kWp).

‎Sayyid Umar menjelaskan, DPRD Kutim akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) untuk melihat peluang perbaikan sistem PLTS yang rusak akibat sambaran petir.

‎“Kami akan komunikasi dengan Perkim, apakah bisa dibantu untuk perbaikannya. Ada dua opsi, menunggu Perkim atau kita hidupkan genset. Tapi kalau genset tentu menyangkut dana,” jelasnya.

‎Ia menilai, persoalan listrik di Pulau Miang bukan semata soal sumber energi, tetapi juga berkaitan dengan sistem pengelolaan di tingkat lokal yang dinilai belum optimal.

‎Untuk memastikan kondisi riil di lapangan, DPRD Kutim berencana turun langsung ke Pulau Miang sekaligus berdialog dengan masyarakat guna membahas pola pengelolaan listrik yang lebih berkelanjutan.

‎“Makanya kami mau turun ke sana, bagaimana membantu masyarakat supaya ini bisa dikelola dengan baik. Termasuk perusahaan juga harus kita ajak duduk bersama,” katanya.

‎Dalam kesempatan itu, Sayyid Umar turut menyoroti ironi kondisi Pulau Miang yang berada di sekitar wilayah operasi perusahaan besar, namun masih mengalami kesulitan akses listrik.

‎“Tidak lucu kan, perusahaan itu memproduksi minyak, tapi lampu tidak nyala. Ini harus kita sinkronkan,” ucapnya.

‎Terkait kemungkinan masuknya jaringan PLN, ia mengungkapkan wacana tersebut sempat dibahas bersama Bupati Kutim. Namun, kebutuhan anggaran pembangunan kabel bawah laut dinilai sangat besar dan belum sebanding dengan jumlah pelanggan di Pulau Miang.

‎“Itu anggarannya besar sekali, dan menurut saya belum sebanding dengan jumlah pembeli. Kecuali ada industri besar yang masuk,” terangnya.

‎Meski demikian, ia membuka peluang masuknya PLN jika ke depan terjadi pengembangan industri berskala besar di wilayah tersebut, seperti rencana MBCT (Multi Bulk Cargo Terminal).

‎“Kalau sekarang, kita upayakan dulu yang ada. Intinya kami akan mencoba mencari solusi terbaik untuk masyarakat Pulau Miang,” pungkasnya.(Yuristio)