EXPRESI.co, KUTIM – Penurunan tajam angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 2025 memunculkan tanda tanya di internal pemerintah daerah.

‎Data yang menunjukkan penurunan dari 9,8 persen pada 2024 menjadi 1,3 persen pada 2025 dinilai perlu dikaji ulang.

‎Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bahkan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim melakukan koreksi terhadap data tersebut, karena dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan kondisi yang dilihat pemerintah daerah.

‎“Saya akan koordinasi dengan pihak akademisi. Karena data yang saya lihat di Bappeda kita masih normal saja,” ujarnya.

‎Menurut Ardiansyah, pemerintah daerah perlu melibatkan kalangan akademisi untuk melakukan kajian lebih mendalam agar penyebab turunnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut dapat diketahui secara objektif.

‎Kajian itu dinilai penting sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan langkah kebijakan yang tepat, terutama untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.

‎Ia juga meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan koordinasi dalam upaya memperkuat kembali pertumbuhan ekonomi Kutai Timur.

‎Secara struktur ekonomi, Kutim masih bergantung pada sektor pertambangan, industri pengolahan, serta pertanian dan perkebunan. Ketergantungan pada sektor-sektor tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kerentanan apabila terjadi fluktuasi pada sektor utama tersebut.

‎Karena itu, pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor lain guna menciptakan struktur ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

‎Di tengah turunnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut, kondisi inflasi di Kutai Timur justru dinilai masih stabil.

‎“Inflasi Kutim cukup bagus. Harga dan stok barang masih terpantau dengan baik,” kata Ardiansyah.

‎Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim Suriansyah menyebutkan inflasi bulanan Kutim tercatat sebesar -0,22 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional bulanan yang mencapai 0,68 persen.

‎“Dari pantauan kami, di Kutai Timur stok barang masih aman tersedia dan daya beli masyarakat juga masih tetap bagus,” ungkapnya.

‎Menurutnya, kondisi inflasi yang relatif stabil tersebut menunjukkan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara makro belum sepenuhnya tercermin dalam kondisi konsumsi masyarakat.

‎Namun demikian, Suriansyah mengakui pihaknya belum melakukan perbandingan data inflasi tahunan secara rinci dengan periode sebelumnya.

‎“Saya belum mengkomparasi data dari tahun-tahun lalu. Tapi secara garis besar sekarang lebih bagus,” ujarnya.(Yuristio)