EXPRESI.co, BONTANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang rencana membangun sejumlah fasilitas khusus bagi para ojek online (Ojol). Tapi katanya tidak semua. Hanya di beberapa titik saja.

Misalnya di Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin), kawasan Terminal dan di area UMKM Center Bontang. Sejumlah Ojol pun keberatan.

Perwakilan Pos Ojol Smanda, Andre Adityo mengatakan, Terminal dan Pasar Tamrin tidak tepat. Sebab bukan titik ramai orderan. Bahkan dinila sebagai lokasi rawan konflik.

“Kalau di UMKM Center, banyak Ojol memang di sana ramai,” ungkapnya saat ditemui Expresi di pos Ojol Smanda, Jumat 9 Januari 2025.

Dua Lokasi Zona Merah

Pasar Tamrin dan Terminal merupakan area Ojek Pangkalan (Opang) mencari pelanggan. Andre menuturkan, sering kali terjadi gesekan antara Ojol dan Opang ihwal perebutan penumpang di wilayah tersebut.

Kata dia, komunitas Ojol Bontang telah sepakat bersama Komunitas Opang sejak 2019. Mereka menentukan lima wilayah yang tergolong Zona Merah Ojol.

Wilayah Zona Merah Ojol itu di antaranya Pasar Tamrin, Pasar Telihan, Pasar Loktuan, Pelabuhan Loktuan dan Terminal Bontang. Kesepakatan itu mengatur agar Ojol tidak mengangkut penumpang di dalam lokasi keramaian tersebut.

“Kesepakatannya, dua wilayah itu tempat mereka (Opang) dan Ojol tidak boleh ambil penumpang di 2 tempat tersebut. Bolehnya 200 meter dari titik lokasi keramaian yang disepakati,” ujarnya.

Andre mengatakan, rencana pembangunan di dua lokasi itu dinilai meningkatkan ketegangan antara Ojol dan Opang. Dia bilang, kesepakatan itu pun masih sering dilanggar dan berakibat konflik.

“Kalau Pemkot memaksakan membangun di situ berarti kan sama saja membenturkan Ojol dengan Opang,” tegasnya.

Ia meminta Pemkot Bontang mempertimbangkan kembali penentuan lokasi pangkalan Ojol yang seharusnya strategis.

Perwakilan Opang di Terminal Bontang, Sapri mengatakan pihaknya hanya butuh pembagian wilayah yang juga dikhususkan. Mengingat jangkauan akses Opang lebih terbatas ketimbang Ojol.

Dua Lokasi Tidak Srategis

Tidak hanya itu, Pasar Tamrin dan Terminal dinilai bukan titik ramai orderan alias tak strategis. “Titik yang direncanakan Pemkot itu tidak ramai pelanggan juga,” tegas Andre.

Ia menyampaikan, harusnya Pemkot Bontang mengadakan pertemuan khusus untuk mendengar masukan dan pandangan pekerja Ojol.

“Seharusnya kan sebelum dibangun, panggil dulu kami dari Ojol. Kita berkordinasi tempat mana saja yang cocok,” imbuhnya.

Komitmen Pemkot Bontang

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang, Taufan Syuhada mengatakan pihaknya berencana menjadwalkan pertemuan kembali dengan perwakilan Ojol di Bontang setelah lebaran tahun 2026.

Pertemuan bertujuan mendengar masukan pekerja ojek mengenai fasilitas Ojol. Masukan itu diharap bisa membantu melengkapi perencanaan matang Pemkot Bontang.

“Habis lebaran kami akan dialog dengan perwakilan Ojol di Bontang,” imbuhnya. (Labib)