EXPRESI.co, KUTIM — Suasana Pasar Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), belum sepenuhnya kembali menggeliat usai libur Natal dan Tahun Baru.

‎Aktivitas jual beli terpantau masih lengang, meski para pedagang telah membuka lapak sejak pagi hari.

‎Pantauan di lokasi menunjukkan jumlah pengunjung belum menyamai kondisi normal sebelum akhir tahun.

Jam-jam sibuk yang biasanya mulai ramai sejak pukul 05.00 WITA kini tampak lebih lengang, mencerminkan belum pulihnya pergerakan ekonomi masyarakat.

‎Sejumlah pedagang mengakui bahwa dua hari terakhir pasar cenderung sepi pembeli. Kondisi ini diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli warga pasca pengeluaran selama libur panjang.

‎Salah satu pedagang sayur, Santi, menyebutkan bahwa pemulihan daya beli masyarakat masih berjalan lambat. Menurutnya, banyak warga masih menahan pengeluaran untuk kebutuhan harian.

‎“Pembeli ada, tapi tidak seramai biasanya. Mungkin karena masih libur panjang, jadi orang-orang masih menyesuaikan pengeluaran,” ujarnya saat diwawancara di Pasar Sangatta Selatan, Jumat 2 Januari 2025.

‎Menariknya, di tengah lesunya jumlah pembeli, harga sejumlah komoditas justru mulai menunjukkan tren penurunan.

Cabai lokal produksi Sangatta masih bertahan di kisaran Rp75.000 per kilogram, sementara cabai kiriman dari luar daerah dijual lebih murah sekitar Rp60.000 per kilogram.

‎“Memang sebelum Natal sempat naik, sekarang sudah mulai turun. Tapi cabai kampung lokal harganya masih tetap,” jelasnya.

‎Penurunan harga lebih terasa pada komoditas bawang. Jika sebelumnya dijual di kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram, kini harganya turun menjadi sekitar Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

‎Harga tomat juga mengalami koreksi. Saat ini tomat dijual sekitar Rp15.000 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp20.000 per kilogram menjelang akhir tahun.

‎Meski harga bahan pokok relatif stabil bahkan cenderung turun, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap omzet pedagang. Santi mengaku pendapatan harian masih jauh dari kondisi normal.

‎“Harapannya ke depan ekonomi masyarakat bisa membaik, supaya belanja juga kembali ramai,” tuturnya.

‎Hal serupa dirasakan pedagang ikan, Ramlah. Ia menyebutkan bahwa penjualan ikan masih fluktuatif dan sangat bergantung pada pasokan serta kondisi cuaca. Namun secara umum, minat beli masyarakat dinilai belum meningkat signifikan.

‎“Kalau cuaca bagus dan pasokan banyak, harga bisa turun. Tapi pembelinya sekarang masih biasa saja,” ungkap Ramlah.

‎Di sisi lain, Pasar Sangatta Selatan tetap menjadi pilihan utama warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, konsumen mengaku kini lebih selektif dalam berbelanja.

‎Salah seorang pembeli, Lidia, mengatakan ia rutin berbelanja di Pasar Sangatta Selatan karena harga dinilai masih lebih terjangkau dibandingkan tempat lain.

‎“Kalau di sini bisa pilih-pilih, harganya juga masih bisa ditawar. Jadi lebih hemat,” katanya.

‎Meski demikian, pembeli berharap pengelolaan pasar, terutama dari sisi kebersihan dan penataan, terus ditingkatkan agar aktivitas belanja semakin nyaman.

‎“Harapan kami, pasar ini makin bersih dan tertata, supaya orang juga betah belanja,” tambahnya.(Yuristio)