EXPRESI.co, MAKASSAR – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi komoditas pertanian sebagai kunci lompatan ekonomi nasional. Di hadapan peserta Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sulsel, Kamis, 26 Februari 2026, ia memaparkan potensi nilai tambah triliunan rupiah jika Indonesia berhenti mengekspor bahan mentah dan mulai memperkuat industri pengolahan di dalam negeri.
“Seluruh kekayaan kita dihilirisasi. Jangan ekspor mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat,” kata Amran.
Menurut dia, perubahan pola konsumsi global membuka peluang besar. Ia mencontohkan tren di Cina yang mulai bergeser dari susu hewani ke susu nabati berbasis kelapa. “Coconut milk ini potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun,” ujarnya.
Komoditas lain yang disorot adalah gambir. Sekitar 80 persen bahan baku dunia berasal dari Indonesia, namun pengolahannya masih dilakukan di luar negeri. “Gambir kita diekspor ke India, lalu dijual kembali ke Amerika. Potensinya bisa Rp5.000 triliun,” kata Amran.
Adapun pada crude palm oil (CPO), Indonesia menguasai 60–70 persen pasar global. Dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, ia menilai nilai tambah komoditas ini dapat melonjak signifikan. “Baru tiga komoditas saja yang dihilirisasi bisa menghasilkan Rp15 ribu triliun,” ujarnya.
Di sisi hulu, Amran mengklaim reformasi tata kelola pupuk bersubsidi telah memangkas 145 regulasi dan menyederhanakan rantai distribusi. Skema yang sebelumnya panjang kini hanya melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, serta gapoktan atau pengecer sebagai ujung distribusi. Dampaknya, biaya pupuk bersubsidi turun hingga 20 persen dan volume pupuk bertambah 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran.
Untuk memperkuat ketahanan pasokan jangka panjang, pemerintah merencanakan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru. Proyek ini diharapkan menopang produktivitas pertanian sekaligus memastikan ketersediaan pupuk di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Dalam forum yang turut dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Amran menekankan bahwa transformasi pertanian bukan semata soal angka pertumbuhan, melainkan soal daya tahan bangsa.
“Kalau kita hanya melakukan hal yang sama dan berharap hasil berbeda, itu tidak masuk akal. Kita harus berani ubah sistem, Indonesia bisa melompat,” katanya.
Bagi Amran, hilirisasi dan penguatan industri pupuk merupakan dua sisi dari agenda yang sama: membangun fondasi produksi di hulu dan mengunci nilai tambah di hilir. Strategi itu, menurut dia, akan menentukan apakah Indonesia sekadar menjadi pemasok bahan mentah atau naik kelas sebagai kekuatan ekonomi berbasis pertanian. (Fn)

Tinggalkan Balasan