EXPRESI.co, SAMARINDA – Upaya memaksimalkan energi baru terbarukan yang dilakukan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur (Kaltim) mendapat pujian dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Saefuddin Zuhri.

Dalam ungkapan apresiasinya, wakil rakyat itu membeberkan bahwa Indonesia khususnya Kalimantan akan meninggalkan penggunaan energi fosil yang selama ini digunakan. “Kami apresiasi itu. Sebab, beberapa tahun ke depan, Kaltim akan meninggalkan energi fosil,” katanya, Sabtu (28/10/2023).

Saefuddin mengatakan, saat ini Kaltim memang harus segera berupaya untuk memaksimalkan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu upaya yang telah berhasil dilakukan Dinas ESDM dalam memaksimalkan ETB adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Bahkan kabarnya, dikemukakan oleh Anggota DPRD Kaltim itu, telah terdapat 35 desa dilakukan pembangunan Komunal PLTS. Legislator Nasdem ini juga mengingatkan, pengembangan EBT harus selalu berada dalam kerangka green economy atau ekonomi hijau.

Skema ekonomi hijau dan ekonomi biru merupakan gagasan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial  masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara signifikan.

“Ekonomi Hijau ini dapat juga diartikan perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbondioksida terhadap  lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial,” katanya.

“Sementara ekonomi biru merupakan rancangan optimalisasi sumber daya air yang bertujuan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dengan tetap menjamin usaha dan kelestarian lingkungan,” jelas Zuhri.

Selain PLTS, Saefuddin Zuhri juga menjelaskan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dapat juga dibangun demi memanfaatkan EBT.

“Tentu jika membangun itu harus juga dilihat dari kondisi alamnya. PLTMH dan PLTA juga dapat dibangun. Beberapa hal ini dapat dimaksimalkan untuk mendukung penerapan EBT secara maksimal di Kalimantan Timur,” tandas Saefuddin Zuhri. (ADV)